Choreography of Colours

Category: Curatorial

Pameran tunggal karya Sardono W. Kusumo: Choreograohy of Colours

—-

Tarian Warna di Atas Kanvas

One thing that makes choreography fascinating to contemplate for its own sake—apart from the merits of the specific performers who may be interpreting it—is the way choreographers employ time, space, and motion so that each dance becomes a little world all its own. — Jack Anderson, Choreography Observed, 1987.

As (Merce) Cunningham said, one keeps finding “more possibilities which were always there; it’s just that one’s own mind hasn’t seen them.”— Joyce Morgenroth, Speaking of Dance, 2004.

…Seniman yang baik ialah manusia yang mampu mengembangkan semua potensi sensitivitasnya. — Sardono W. Kusumo, Hanuman, Tarzan, Homo Erectus, 2004.

Pada tahun 2004 terbit buku yang berisi kumpulan tulisan Sardono W. Kusumo yang berjudul: Hanuman, Tarzan, Homo Erectus (ku.bu.ku, Jakarta, 2004). Usai membaca buku itu beberapa tahun lalu, saya terkagum-kagum pada Sardono — Mas Don, saya biasa memanggilnya — karena dari tulisan-tulisannya saya memetik sejumlah pelajaran penting: keluasan pengalamannya sebagai penari dan koreografer, totalitasnya dalam menjalani kegiatan keseniannya sebagai seorang seniman, dan intelektualitasnya sebagai seorang seniman yang mampu melakukan pemikiran reflektif atas pengalaman, perjalanan dan proses kreatifnya sendiri. Soal yang terakhir ini, menurut saya, adalah hal yang langka dalam perjalanan seni modern dan kontemporer kita. Sejauh yang bisa saya ingat dan ketahui, hanya almarhum Nashar (1928-1994) yang dengan lancar dan bernas menuliskan dan memikirkan perjalanan kreatifnya dalam kumpulan “surat” yang pernah terbit dengan judul Surat-Surat Malam (Jakarta : Budaya Jaya, 1976; kemudian terbit lagi dalam: Nashar oleh Nashar, Bentang Budaya, Yogyakarta, 2002).

Kemiripan dua orang ini—setidaknya dalam hal kemampuannya mengurai dan menuliskan proses-pengalaman kreatifnya tadi—membawa saya pada pengandaian: hanya seniman yang menggeluti kerja keseniannya dengan total, yang menjadikan kerja keseniannya seurat-sedarah dengan kehidupannya, berpeluang untuk sampai pada kemampuan reflektif semacam itu.

***

Sardono W. Kusumo, lahir di Solo pada tahun 1945. Saat baru berusia 8 tahun ia sudah diarahkan pada kegiatan olah gerak tubuh oleh ayahnya. Ia disuruh belajar pada rekan ayahnya, ahli silat dari Keraton Surakarta, R. Ng. Kridosoekatgo. Tiga tahun kemudian, saat Sardono berusia 11 tahun, guru silatnya justeru menyarankannya untuk belajar menari.

Mengikuti anjuran guru silatnya, ia kemudian belajar tari pada empu tari dari Keraton Surakarta, R. Ng. Atmo Kesowo. Dari saat itu, ia mulai disiplin belajar tari dalam gaya alusan, untuk memerankan kehalusan gerak tokoh-tokoh wira sejati semacam Arjuna, Abimanyu dan Rama. Tentang latihan dan pelajarannya mendalami tari halus ini, Sardono menulis: “Gerak tari halus itulah yang kemudian kupelajari bertahun-tahun. Tari halus merupakan rangkaian gerak tubuh yang betujuan mengendalikan emosi. Rangkaian gerak ini mengesanan aliran yang tak terputus, tenang, tanpa riak atau gerakan tersendat apalagi gerakan meledak.” (Sardono W. Kusumo, 2004, p. 118). Di bagian selanjutnya, ia menjelaskan bahwa prinsip detachment dalam gerak tari halus itu boleh jadi berkenaan dengan akar keyakinan Budhisme yang berakar dalam keyakinan hidup orang Jawa: kemampuan menahan emosi diri, bermeditasi, sampai pada kemampuan menyatu dengan yang tak berbentuk, nir-rupa.

Saya kira, totalitas Sardono menjalani kerja kesenian, memang berakar pada latihan-latihan intensif tari Jawa yang diterimanya sejak masa kanak-kanak itu. Latihan-latihan itu tidak hanya berujung pada kemampuan motoriknya dalam melakukan gerak tari yang “baik dan benar”. Terlebih penting lagi, latihan-latihan itu mengarahkannya pada pengertian bahwa menari, sebagai kerja kesenian, tak kurang-tak lebih adalah cara untuk melakoni kehidupan. Ia menjelaskannya demikian: “…menari merupakan sebuah proses pendidikan untuk menjadi pribadi yang ideal sesuai pandangan hidup Jawa. Pribadi yang ideal adalah pribadi yang mampu mengendalikan emosi dengan gerakan dan pola tingkah laku, body language.”

Penjelasan itu jelas menunjuk pada tuntutan kualitas total penghayatan seseorang akan kerja atau kegiatan kesenian; cara pandang yang merumuskan kesenian = kehidupan.

Kiranya, pandangan semacam itulah yang menjadi dasar dan motivasi utama Sardono menjalani kehidupan dan kesenimanannya selama ini.

Sudah sejak awal kariernya sebagi penari ia melakukan berbagai percobaan dan penemuan untuk mengembangkan dan menumbuhkan kemampuannya menari. Terlatih dalam gaya tari alusan, ia pernah kaget ketika diminta memerankan Hanuman dalam suatu pentas tari. Kekagetan itu justeru ia jadikan titik awal untuk mulai mengenali dan menggali berbagai kemungkinan gerak tari. Segala sumber yang ia kenali dengan cepat ia manfaatkan sebagai bagian dari perkembangan kreatifnya: silat, gambar komik Tarzan, sekaligus berbagai genre tari Jawa yang berbeda-beda.

Selanjutnya, seperti telah banyak dicatat dan diketahui, Sardono terus mengembangkan metoda latihan sekaligus upaya kreatifnya merambah ke berbagai pelosok Indonesia, mengenali dan mempelajari berbagai jenis tarian. Alih-alih, tidak hanya berujung pada penguasaan dan pengenalan tarian sebagai persoalan teknik gerak menari, Sardono justeru menggali lebih dalam: ia nyemplung ke persoalan kenyataan hidup masyarakat yang ia kunjungi. Ia masuk dalam pengenalan terhadap tradisi, adat-istiadat, sejarah, hingga ke pelbagai soal sosial-politik yang sedang dihadapi masyarakat itu.

Dengan pengenalan yang mendalam itulah kiranya kita bisa memahami bagaimana Sardono kemudian sampai hari ini tercatat sebagai pembaharu seni tari dan pertunjukan yang paling terkemuka di Indonesia. Penelitian, latihan, dan pengenalannya atas tari Sang Hyang di Desa Teges, Ubud, Bali, melahirkan pembaruan atas tarian Cak dan pertunjukan sendaratari Bali (Cak Tarian Rina, Dongeng dari Dirah, 1971-1974); perkenalannya yang intens dengan suku Dayak dan Nias melahirkan koreografi pertunjukan kontemporer yang menghadirkan unsur-unsur gerak dan tari dari suku-suku pedalaman itu tapi sekaligus menghadirkan pesan sosial tentang keberadaan mereka (Meta Ekologi, Hutan Plastik). Ia terus mengembangkan wilayah koreografi tarinya sampai ke wilayah seni suara, musik, hingga seni rupa. Ia bergaul dengan suku Asmat dan mengenali kekayaan khasanah seni tari dan seni suara dalam cara hidup mereka. Ia mempelajari sejarah Perang Jawa sampai pada Raden Saleh yang pernah melukiskan peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro untuk kemudian ia hadirkan dalam pentas Opera Diponegoro.

Bagaimana ia sampai merambah ke wilayah yang demikian beragam dan luas?

Salah satu jawabannya, sudah saya kemukakan, jelas berasal dari keyakinannya yang sudah terbentuk sejak awal kariernya sebagai penari: bahwa kesenian = kehidupan. Dalam kata-katanya sendiri, setelah berkunjung dan berlatih tari dengan remaja dan anak-anak di Nias, ia menulis demikian: “… Saya jadi lebih yakin bahwa kesenian adalah bentuk ekspresi paling awal dari manusia. Juga, kesenian ternyata memberi tidak hanya rasa fungsional dalam masyarakat. Lebih dari itu, kesenian memberikan rasa hadir (sense of existence), sesuatu yang menjadi pondasi individu maupun masyarakat guna berkembang lebih lanjut, guna mengisi hidup sehari-hari.” (2004, p. 109).

Lagi-lagi, sebuah pernyataan keyakinan yang menyetarakan kesenian dan kehidupan.

***

Rumah itu ada di area belakang sebuah kompleks perumahan di Kemang Selatan, wilayah selatan Jakarta. Ukurannya cukup besar tapi tampak tua dan kurang terawat. Belum lagi saya masuk ke dalam rumah, sudah terlihat—dari lubang jendela yang terbuka lebar-lebar—begitu banyak kanvas berlumuran cat warna-warni disandarkan di dinding-dinding ruangan. Begitu masuk ke dalam rumah yang terbagi dalam sejumlah kamar, lebih banyak lagi lukisan yang saya temui. Nyaris semua ruang terisi kanvas yang sudah berlumuran cat. Rata-rata berukuran besar, lebih dari 1,50 meter lebar atau tingginya. Ada cukup banyak yang lebih besar lagi. Inilah studio tempat Sardono melukis. Di rumah besar tapi kumuh itulah Sardono mengerjakan lukisan-lukisannya selama 7-8 bulan belakangan ini.

Saya pertamakali mendengar bahwa Mas Don melukis kurang lebih 6 bulan yang lalu. Kabar itu saya terima dari Biantoro Santoso (Nadi Gallery) yang menyampaikan pesan bahwa Mas Don minta saya mampir ke rumahnya untuk melihat beberapa lukisan yang baru dibuatnya. Karena kesibukan saya mengikuti berbagai acara seni rupa, undangan itu tidak bisa segera saya penuhi. Dan, kedua, saya sempat berpikir bahwa Mas Don paling-paling sedang iseng menyiapkan sejumlah bahan visual untuk koreofrafi atau rencana pentasnya.

Akhirnya, sekitar 3 bulan lau, Vivi Yip memastikan kabar bahwa Mas Don berencana memamerkan lukisan-lukisannya. Vivi sudah setuju jadi penyelenggara, dan saya diminta untuk jadi kurator pameran itu. Didorong rasa penasaran dan ingin tahu, saya akhirnya setuju dan berkunjung ke studio dan kemudian ke rumah Sardono.

Saat berbincang-bincang tentang lukisan-lukisannya yang sedemikian banyak—yang juga memenuhi ruang mezzanine dirumahnya, dan beberapa dibuat langsung menjelujur sepanjang gulungan kanvas 10 meter tergantung di langit-langit—saya mulai menngingat-ingat lagi berbagai hal yang pernah ia kemukakan dalam berbagai tulisan tentang pengalaman hidupnya sebagai penari dan koreografer. Dengan ingatan itu pula saya bisa mulai menimbang-nimbang dan memahami lukisan-lukisan yang baru ia buat dengan intensitas kerja yang mengagumkam: hampir setiap hari, dalam 6-7 bulan terahir ini.

Soal energi dan kegandrungannya melukis yang begitu total dan intens, sama sekali bukan hal baru atau sulit dipahami. Untuk seorang seniman yang telah begitu banyak pengalaman—yang pernah dengan sengaja mengirim dirinya sendiri ke berbagai lingkungan yang “asing” dan berbeda-beda sambil terus bersikap kritis dan kreatif—saya kira tak ada soal bagi Mas Don untuk menguras energi dan konsentrasi, mengerjakan sesuatu yang memang sungguh sedang ingin ia lakukan. Tapi melukis? Membuat lukisan? Dengan baluran warna-warni serba abstrak ini? Bagaimana memahaminya?

Beberapa pemahaman, mulai terkuak bagi saya setelah saya menghabiskan beberapa jam perbincangan dan diskusi dengan Mas Don mengenai lukisan-lukisannya.

Meskipun secara bahan, bentuk dan wujud, karya-karya ini jelas berwujud lukisan, saya akan menyebutnya sebagai koreografi tarian warna. Saya sebut demikian karena lukisan-lukisan ini tampak jelas lahir dari kesadaran dan kepekaan seorang penari dan koreografer.

Hampir pada semua lukisan, Mas Don tidak menggunakan alat atau teknik yang biasa digunakan pelukis untuk menggaris, membangun bentuk, mengisi warna. Kuas, misalnya. hampir tidak berperan sama sekali. Ia juga tidak menyandarkan kanvasnya pada sagang (easel). Yang paling sering, ia menumpahkan cat pada permukaan kanvas, untuk kemudian bereaksi secara gestural dan motorik, merespons sekaligus memainkan potensi gerak cairan cat berwarna itu di permukaan kanvas. Kalaupun ia mengatur keenceran ataupun kekentalan catnya, ia tidak melakukannya pertama-tama demi kepentingan efek visual, tapi untuk mencapai kemungkinan perubahan gerak yang bisa terjadi: cat yang menetes, menyebar, membercak, bercampur, dan lain-lain.

Ini semua ia capai dengan gerak tubuhnya. Setelah menumpahkan atau melaburkan cat ke permukaan kanvas, maka Mas Don mulai menari bersama kanvas dan cat itu: ia akan memegang sisi kanvas dengan satu atau dua tangan, memiringkannya, mengangkatnya, memutar, membalik arah, atau diam menunggu berbagai gerak cat yang perlahan meleleh, atau menyebar, bergetar, membaurkan batas antara dua atau tiga warna.

Watak gerak dan unsur perfomatif ini makin nyata saat ia menjelaskan pada saya tentang hal-hal yang dianggapnya menarik dalam beberapa lukisannya. Secara verbal, Mas Don—entah ia sadari atau tidak—sangat sering menggunakan kosa-kata yang berkenaan dengan gerak saat ia menjelaskan apa yang terjadi di bidang kanvas lukisan-lukisannya itu. Ia, misalnya, akan menjelaskan dengan cara kurang lebih demikian: “Warna di sini jadi bergetar, vibrating; garis-garis di bagian sana seperti berlari, berkas warna di belakang tampak melayang; tekstur dan garis di sini tumpang-tindih, bergelombang, bergolak.” Dan pada saat bersamaan, dari penjelasannya itu, ternyatakan juga sikapnya memperlakukan bidang kanvas sebagai ruang. Pemahaman akan adanya hubungan yang erat antara gerak dan ruang adalah bagian integral dalam kesadaran tubuh seorang penari/koreografer.

Kualitas gestural dan ruang dalam lukisan-lukisan Mas Don ini bisa saja kita perbandingkan dengan lukisan-lukisan karya Jackson Pollock. Jika Jackson Pollock masih hidup, ia boleh jadi akan getol berbincang dan berdiskusi dengan Mas Don soal lukisan yang merekam jejak gestur tubuh demikian. Pollock, jadi mengemuka namanya dalam khasanah seni rupa abstrak-ekspresionisme Barat gara-gara lukisannya yang mengajukan ekspresi gerak melalui tetesan dan lelehan cat langsung ke permukaan kanvas yang tergelar di lantai. Mas Don kiranya telah mendorong pendekatan gestural Pollock kepada sejumlah kemungkinan yang lebih beragam dan lebih jauh. Ini dimungkinkan karena Mas Don jelas punya tradisi latihan sebagai penari; pengalaman, pengetahuan dan kesadaran sebagai seorang koreografer. Ia punya kebebasan gerak yang jauh lebih luas dari Pollock yang bagaimanapun juga masih bergerak di persoalan seni rupa dan lukisan saja. Dalam rumusannya sendiri, Sardono pernah menyatakan:Seorang penari memiliki peluang menafsirkan gerakan dengan bebas, dan menyalurkan suasana batinnya secara ekspresif.” (2004, p.121).

“Kebebasan peluang tafsir” seorang penari yang ia jelaskan itu berkenaan dengan tari dan pertunjukan sebagai suatu latihan dan kerja pementasan. Seorang penari/koreografer tak hanya mengolah kepekaan artistiknya pada persoalan tubuh (pose, gestur, gerak), tapi juga pada irama, musik, waktu, suara, cahaya, warna, dan lain-lain. Dari sisi ini, Mas Don jelas lebih beruntung, dan lebih merdeka, ketimbang pelukis yang terkungkung pada persoalan “membuat lukisan”. Di samping itu, ia jelas tidak terbebani oleh berbagai batasan teknik, atau aturan melukis. Lebih jauh lagi, ia tidak terbebani oleh tradisi atau “sejarah” seni lukis.

Kalau mau membandingkan lagi kerja Mas Don dengan apa yang pernah terjadi di Barat, sebenarnya yang ia lakukan ini sebanding dengan apa yang pernah dialami dan dilakukan oleh koreografer kenamaan Merce Cunningham di New York sudah sejak tahun 1940-an. Saat Mark Rothko dan Jackson Pollock sedang mencari dan berupaya merumuskan lukisan abstrak-ekspresionisme, Cunningham justeru sedang sibuk dengan seniman lintas-disiplin. Koreografi tarinya yang membongkar berbagai konvensi dan konsep tari modern Barat berhasil ia capai melalui kerjasama kreatif dengan John Cage (musik) dan Robert Rauschenberg (seni rupa).

Jadi, kalau kini Sardono melahirkan koreografinya yang baru dan berwujud lukisan, sebenarnya pantas saja diterima sebagai kewajaran. Lebih bagus lagi kalau ini bisa dilihat sebagai peluang untuk melakukan sejumlah percobaan dan pembaruan bagi seni rupa kontemporer kita—yang belakangan ini didominasi lukisan yang pada umumnya menempuh cara perupaan realis. Lukisan-lukisan jenis demikian kadang terlalu sibuk dengan keinginan untuk berkisah dan menyampaikan pesan. Maunya serba naratif tapi seringkali jadi cerewet dan akhirnya tidak menyampaikan apa-apa yang penting bagi lukisan itu sendiri.

Padahal, dalam khasanah seni rupa kontemporer, soal merambah batas dan media sebenarnya sudah jamak juga. Kalau perupa membuat karya dengan bunyi-bunyian, jadilah seni bunyi (sound art, bukan musik); kalau perupa berekspresi dengan gerak tubuh dan ekspresi wajah, sambil dilengkapi suara, bunyi-bunyian atau musik, jadilah performance art (bukan tarian); kalau ia menata dan memasang berbagai bentuk, bahan dan barang dalam tatanan ruang, jadilah instalasi (bukan dekorasi ruang/panggung); juga, kalau perupa menggarap citra-citra bergerak untuk kemudian ditayangkan di layar monitor atau dipancarkan proyektor, tergelarlah video art (bukan filem), dan lain-lain.

Kali ini, penari/koreografer menghadirkan tarian warna di atas kanvas.

— Enin Supriyanto

Tag:
Published: November 7, 2009





Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2021 viviyip artroom · webdesign by rio