02  March  2009

Memori yang Samar-samar

Oleh: Ilham Khoiri

Sumber: Kompas, 1 Maret 2009

Sebenarnya seberapa detail kita mengingat sosok seseorang, terutama wajahnya? Jika dipandu fotografi, barangkali kita mudah mencirikan satu wajah dengan wajah lain. Namun, jika dibiarkan berimajinasi bebas, sebenarnya memori kita itu samar-samar saja.

Pameran tunggal Erik Pauhrizi, ”Face Phantasmagoria” di Vivi Yip Art Room, Pejaten, Jakarta Selatan, 21 Februari-14 Maret, mencoba mengulik soal ini. Pergelaran menyajikan 10 lukisan cat minyak, enam lukisan cetak digital, dan satu seri cetakan di atas stainless steel. Kurasi ditangani dosen dan pengamat seni rupa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Asmudjo J Irianto.

Semua lukisan, cetakan digital, atau cetakan di atas stainless steel itu menyajikan gambar wajah-wajah seseorang—katakanlah someone, bukan somebody. Wajah-wajah itu unik karena ditampilkan dalam warna hitam-putih dan didistorsi pada bagian-bagian tertentu. Kadang, sebagian anatomi wajah dikaburkan (blurred), disamarkan, dikurangi, dihapus, atau dilelehkan.

Lukisan berjudul ”Arya”, misalnya, menggambarkan wajah laki-laki. Sebagian jaket jins yang dikenakan sosok itu tampak jelas. Namun, wajahnya benar-benar samar. Hanya terlihat gubahan bidang hitam-putih mirip hidung, mata, rambut, dan leher, tetapi detail anatominya hilang sama sekali.

Karya lain, ”Sandra”, menggambarkan sosok perempuan muda berkerudung totol-totol. Mata, pipi, dan hidung pada bagian kiri wajahnya lumayan jelas. Namun, bagian kanan wajah itu membaur jadi bidang abu-abu. Kerudung di bagian leher mengabur dan seakan meleleh sampai ke dada.

Seri ”Post Mirrored Reality” juga menampilkan sosok samar yang dicetak di atas stainless steel. Karya ini mengundang pengunjung untuk becermin di depan bidang stainless yang mengilap dan memantulkan gambaran pengunjung. Di situ, terjadi permainan visual antara sosok nyata pengunjung, pantulan optik dari sosok nyata di atas stainless, serta gambar cetakan sebelumnya.

Semua karya lain kurang-lebih menggambarkan wajah-wajah dengan pendekatan serupa. Menyaksikan deretan lukisan itu di ruang galeri, kita seperti dibenturkan pada ingatan tentang wajah nyata dan wajah olahan. Kita seperti masuk dalam dunia lain, dunia yang samar antara batas nyata dan tak nyata.

”Lukisan Pauh (sapaan akrab Erik Pauhrizi) menghasilkan kesan seperti sekuen wajah dengan tampilan misterius dan tidak nyata, atau bisa disebut sebagai phantasmagoria,” kata Asmudjo.

Misteri dalam lukisan itu kuat karena digarap dengan warna hitam-putih. Warna berat dan kontras itu segera menarik kita sejenak dari kenyataan sehari-hari yang merayakan warna-warni yang enteng, seperti yang kita jumpai di kota-kota besar. Tampilan satu sosok pada setiap lukisan membuat masing-masing sosok tampil dominan dan pemirsa bisa mengeksplorasinya satu-satu.

”Karya-karya Pauh memperkaya praktik seni rupa kontemporer Indonesia yang cenderung colorful,” tambah Asmudjo.

Memori

Pameran ”Face Phantasmagoria” ini mengajak kita untuk menguji batas memori. Lukisan-lukisan itu mengandaikan, sebenarnya kita sama sekali tidak mengingat wajah seseorang secara detail. Tangkapan kita hanya samar-samar saja.

Seperti diungkap filsuf Perancis, Jean Paul Sartre, jika seseorang tidak ada di hadapan kita, kita bakal kesulitan membayangkan atau menggambarkan secara rinci bagaimana bentuk hidung, pipi, mata, atau telinga orang yang dikenal itu dengan jelas. Lukisan atau foto kemudian hadir untuk menjembatani antara keterbatasan memori dan kenyataan asli. Namun, karya seni itu tetaplah bukan kenyataan sesungguhnya, melainkan imitasi dari sesuatu yang analog atau mirip-mirip kenyataan itu.

Agaknya karya-karya Pauh berada dan bermain-main dalam ruang antara ini. ”Saya mencoba menghilangkan jejak-jejak ingatan pada wajah-wajah teman-teman yang saya lukis itu. Saya hilangkan bagian-bagian yang kuat sebagai penanda memori,” katanya.

Memang, sosok-sosok itu adalah teman-teman dekatnya. Ada mahasiswa, desainer, pemusik, pelukis, atau penganggur. Mereka dipotret satu per satu, kemudian hasil fotonya diolah dalam program komputer dengan menyamarkan bagian-bagian tertentu pada wajah itu. Olahan ini diproyeksikan dengan mesin infocus ke atas kanvas, lantas dilukis lagi dengan cat minyak.

”Saya juga mempersoalkan foto yang selama ini dianggap representasi realitas secara akurat. Padahal, citra foto sebenarnya beda dengan sekala, bentuk, dan obyek nyata. Foto hanya kumpulan titik, warna, atau gubahan samar-samar dari obyek asli,” katanya.

Pauh dekat dengan hal ihwal representasi realitas. Saat kuliah di Jurusan Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, dia banyak bergelut dengan fotografi dan video. Dua tahun belakangan, dia serius melukis dan wajar saja jika kemudian lukisan-lukisan itu kerap mempersoalkan masalah representasi dalam fotografi dan video. Karya-karya semacam ini pernah digelar dalam pameran tunggal di Mes 56 dan LIP, Yogyakarta, serta di Rumah Seni Yaitu, Semarang, tahun 2008.

Leave a Reply