12  August  2010

SUPERHISTORY

Superhistory.

by : Yesaya Sandang

Sejarah, konon ditulis oleh pihak yang menang. Oleh karenanya sejarah bisa jadi sepihak bahkan semena-mena. Jean Francois Lyotard (1924-1998) salah seorang pemikir postmodern mencoba keluar dari pandangan tersebut dengan memandang sejarah sebagai kesatuan yang saling tergantung, atau sebagai serangkaian peristiwa aksidental yang mungkin saja memiliki konsekuensi-konsekuensi yang tidak diharapkan. Artinya, sejarah disini merupakan suatu jalinan cerita-cerita yang seharusnya diproduksi oleh banyak pihak, bukan pihak yang menang saja. Dengan demikian kita tidak dapat lagi mengandalkan narasi besar ataupun cerita-cerita yang bertujuan untuk mengungkapkan kedalaman makna dan tujuan dari sejarah dunia secara sepihak. Dalam masyarakat dan budaya kontemporer, masyarakat post-industri, dan budaya postmodern, pertanyaan legitimasi pengetahuan (sejarah) dirumuskan dengan model yang berbeda. Narasi besar (grand narative) telah kehilangan kredibilitasnya, apapun model unifikasi yang digunakannya (Lyotard, 1984).

Salah satu narasi yang mengiringi sejarah umat manusia adalah perang. Perang adalah antitesa dari perdamaian. Perdamaian hanyalah perang yang tertunda, demikian ujar Machiavelli. Perang selalu sarat dengan perayaan akan kematian, ia selalu meminta korban tanpa pandang bulu. Tak ada yang baik dari perang karena ia hanya hanya berujung pada kehancuran. Namun toh perang selalu hadir menghiasi perjalanan sejarah umat manusia. Disini fotografi hadir sebagai salah satu media yang mengabadikan momen-momen dalam peperangan. Namun, dewasa ini liputan perang bukan hanya soal foto. Liputan media lainnya yang kian canggih mampu menghadirkan nuansa perang hingga ke ruang keluarga kita dalam bentuk yang terdistorsi. Perang kemudian hanya merupakan jalinan cerita tak bertepi, menggugah namun sekaligus hampa.

Bagi generasi muda dewasa ini perang bahkan telah menjadi objek permainan menarik. Tengok saja permainan komputer semisal Call of Duty, Medal of Honor, dan masih banyak lainnnya. Narasi perang dijadikan media untuk meleburkan diri dalam suasana bermain-main. Unsur sejarah yang dikemas dalam permainan tersebut tak dapat dipungkiri adalah sejarah versi pemenang. Asumsinya, mana ada orang yang mau main jika ia jadi yang kalah. Menang dengan embel-embel kepahlawanan adalah misi sakral yang harus dicapai.

Dalam peperangan selalu dikisahkan tentang tokoh-tokoh yang memiliki peranan penting. Tokoh tersebut diberi kriteria baik itu pahlawan maupun tokoh antagonis. Dalam kosakata umumnya, pahlawan memang orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, seorang pejuang yang gagah berani. Dari sana kata kepahlawanan dijelaskan sebagai perihal sifat pahlawan (seperti; keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan). Sementara di balik sosok pahlawan, selalu saja ada ‘si jahat’, sosok antagonis penyebab terjadinya segala kekacauan, dan sebagaimana yang selalu terjadi, sosok pahlawan muncul dalam memerangi kedigdayaan sang antagonis tersebut.

Dalam ruang imanjinasi yang tidak mengandalkan narasi besar, cara pandang terhadap sejarah bisa saja mengalami pergeseran. Termasuk cara pandang terhadap pahlawan dan ‘si jahat’. Agan disini bisa jadi terinpirasi dari model-model petualangan imajiner yang lekat dengan kehidupan generasinya. Sejarah yang disikapi dengan santai. Dalam kesantaiannya tersebut, Agan kemudian mengolah tangkapan sejarah dalam fotografi kedalam ruang imajinasinya dengan gaya satire yang unik. Ia menggeser pemaknaan fotografi (sejarah) perang kedalam versinya.

Namun uniknya dalam karya Agan kali ini, ia memilih untuk memasukan tokoh-tokoh yang umum dikenal melalui komik-komik fiksi dan film-film sains-fiksi. Namun apa maksudnya ketika ia menyajikan kehadapan kita secara berhadap-hadapan antara narasi sejarah dan sosok-sosok tersebut? Mungkinkah Agan sementara hendak menyindir kita bahwa kita sementara hidup dalam narasi komikal ataupun sains fiksi? Atau bahwa sejatinya serorang pahlawan hanya ada dalam dunia komikal (fiksi)? Walau demikian, dunia komikal dan fiksi memang memiliki daya tariknya sendiri. Kisah seru dalam jalinan aksi lengkap dengan bumbu-bumbu romantika adalah daya tarik utamanya.

Lantas apa jadinya jika Superman ternyata turut serta dalam ‘D-Day’ di pantai Normandy. Atau keterlibatan Hulk di Iwojima dalam perang Pasifik. Ini semua pertama-tama membuat saya terseyum kecil. Ada yang menggelitik ketika menyaksikannya, namun kemudian saya tertegun sejenak dengan suatu pertanyaan yang mengganggu. Dengan cara semacam inikah kita memahami narasi (sejarah) perang? Bukan tidak mungkin kisah sejarah yang mulai dipreteli unifikasi narasinya atas nama narasi kecil, dan dikemas dalam bentuk bermain-main akan menimbulkan problem dikemudian hari, di generasi yang akan datang.

Dari sini entah mengapa tiba-tiba saya malah berpikir, bagaimana jika suatu waktu kelak, perang tak lebih sekedar simulasi dalam satu ruangan dengan banyak layar dan tombol (bukankah inipun sebenarnya sudah terjadi saat ini???). Dan orang-orang yang mengoperasikan sementara melakoninnya seakan-akan mereka sedang “bermain”. Terdengar janggal mungkin, namun yang janggal inilah yang saya tangkap sementara disasar oleh Agan. Bahwa kian lama perang kian kehilangan nuasa krisisnya. Ia hanya berita di televisi yang dapat ‘dinikmati’ bersama keluarga dan handai taulan di meja makan. Perang di modifikasi kedalam bentuk simulasi permainan tanpa perduli dengan dampak yang sebenarnya dapat terjadi. Dan sejarah kepahlawanan kemudian seolah terdistorsi menjadi bentuk fiksi, layaknya dalam dunia komik dan permainan.

Disisi yang lain, peletakan tokoh-tokoh antagonis seperti Darth Vader, Joker dan Megatron, memperlihatkan ada upaya dari Agan untuk tidak terjebak pada satu sisi dari keping sejarah. Katakanlah semacam perimbangan dalam konteks kedalaman makna dan tujuan sejarah itu sendiri. Dengan demikian saya semakin yakin kalau Agan -lewat rangkaian karyanya sekarang ini- hendak menonjolkan aspek satire yang lebih lugas. Satire terhadap sejarah yang menurutnya terdistorsi. Kesan dangkalnya memang hanya sekedar lelucon, buat lucu-lucuan. Namun, kalau mau dimaknai lebih dalam, kita dapat menemukan keprihatinan yang tidak main-main. Revolusi digital hari-hari ini dipakai Agan untuk melakukan sebuah upaya revolusi lainnya, yaitu suatu revolusi superhistory.

ARTIST STATEMENT

The work of Marco Cassani is constructed around the idea of a place of origin. The painter takes a physical and psychological journey, going profoundly into the man. Not to the primitivism but even further to the place before birth. To find the place of origin where things are still undefined. There, he starts to re-understanding the things and defines them according to his own experience. In this place, he is the Animula Vagula Blandula (these are Latin words written by Adriano, a Roman emperor. The meaning is: little soul, wandering and pale).

Through his paintings, the artist wants to share some of those things, those human aspects he has encountered during his voyage: the word, the house, the home, the meditation, the solitude, the unknown, the mother earth, the agriculture, the awakening, the death. The painter believes that his paintings should always be open to the spectator’s interpretation. Therefore he does not provide a series of a well-defined paintings but only the traces of vague narration presented in a balanced proportion with his expression. He wants to invite the spectators to see closer, to get closer, to see through many different layers of his paintings. When they do, they would find those traces such as the small men, the organs, and the skulls. These little traces are intended to provoke curiosity, questions, thought and eventually to stimulate people to find their own definition of his paintings.

To create his paintings, Marco Cassani does not follow any methodologies of work. The paintings were born from his initial ideas, from photographs, his sketches, stories, books, internet. Everything has a potential for inspiration, even from the progress of the painting itself. Sometimes there is a real dialogue between the painting and the painter. Sometimes the painting suggests to the painter how to continue or how to finish the work. As important as the inspirations is his intense research on materials and techniques. He uses oil colours, acrylics, chalks, enamels, asphalt and mixing them to achieve some peculiar effect from the reaction produced by the mixture. This peculiar effects of mixed material that he calls “The stain” could be seen constantly on every of his work. He also uses various instruments to apply colours: pens, spatula, knives and rocks to achieve a new relationship with the colours. Marco Cassani does not have restriction of time when he works. A painting takes its time to finish; it could be one month, two or three months or even 15 months.

The first one of the paintings exhibited in this show was started in the beginning of 2008, a short time after he returned from his 3 months travel, living alone in a wood in Mexico. This travel plays important role in the spiritual aspect of his paintings.

In this exhibition, Marco Cassani presents a music created from his three months collaboration with an Italian musician. This music was created with a strong root to his art, using mathematical algorithm to bring the spectators deeper into his paintings. Inside the paintings there is a little bit of everything of Marco’s life. It takes more than words to understand and feel them. It takes time.Like he says for the life: Feel with the heart, re-elaboration with the brain, and feel again with the heart.

03  June  2010

EGOCENT(U)RY

Menjadi pribadi seutuhnya adalah suatu

dilema tersendiri dalam menghadapi

pluralitas kehidupan yang semakin mengejar

personalitas yang popular. Adanya hasrat

untuk mengangkat diri ke permukaan hingga

menjadi perhatian publik, merupakan

permasalahan yang kerap mengorbankan

jati diri. Konsekuensinya, berbagai referensi

menjadi perisai utama demi melindungi

jati diri sebagai “aku”, dan mengedepankan

sesuatu yang lebih dapat diterima oleh

orang banyak. Jika seseorang menjadi

dirinya sepenuhnya, terkadang hal tersebut

belum dapat diterima oleh orang lain.

Dengan demikian, hak asasi pribadi terbatas

pada hak asasi orang lain.

Popularitas membuat individu-individu yang seharusnya memiliki ruang privasi,

akhirnya menjadi komsumsi publik. Dengan mudah ruang gerak privasi tersebut

menjadi panggung spektakuler. Hal ini adalah konsekuensi dari penyandang

“popularitas”. Identitas menjadi ambigu atas tuntutan profesionalitas , bahkan

menjadi target market dari brand-brand terkemuka untuk menjadi bagian dari

world business. Kepribadian asing yang dulunya hanya sebagai topeng, lambat

laun melekat kuat sebagai the new personality. Semakin dikenal semakin

congkak, selektif berkelas dan anti-regenerasi. “Penyakit” ini sering menjangkiti

the young popular.

Siapakah aku? Apakah aku asisten pribadi publik? Kehidupan teatrikal di luar

ruang privasi sungguh melelahkan. Semua palsu, kerinduan menjadi pribadi

yang utuh dan ruang privasi yang steril, berbalik menjadi impian. Namun

citra kepopuleran yang telah didapat, bukan berarti sia-sia. Dalam konteks

popularitas, konsisten terhadap basic personality menjadi tantangan bagi anda

yang popular.

Andi Cakra Abbas, S.Sn

30  April  2010

COLD MEMORIES

COLD MEMORIES

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes but in having new eyes.

- Marcel Proust (1871 – 1922)

Sejak jaman ketika S. Soedjojono mengritisi corak lukisan yang dijulukinya “ Hindia Molek “ atau dikenal “Mooi Indie”, sebenarnya yang disebut realitas dalam cara pandang para pelukis serta merta menjadi problematis. Soedjojono seolah berartikulasi dengan persoalan persepsi terhadap apa yang terlihat dan diyakini (way of seeing and belief ), bahwa realitas adalah suatu konstruksi yang dibentuk oleh manusia modern, terutama oleh perkembangan teknologi (fotografi dan media baru) dan posisi subyek ketika memandang suatu lansekap atau kenyataan disekitarnya. Dalam hal ini Soedjojono berupaya membedah cara pandang kolonial terhadap realita alam sekitarnya yang selalu dihadirkan dengan cantik, indah, damai tanpa problematika. Bisa dikatakan dalam pameran dua perupa ini memperlihatkan olahan lanjut dari kritik dan artikulasi dalam membedah realitas yang disebutkan Soedjojono. Kedua perupa Andy Dewantoro dan Davy Linggar, masing – masing tertarik dengan melukis, fotografi, serta teknologi media baru, walaupun dengan cara yang berbeda.

Andy Dewantoro adalah seorang pelukis dengan kecenderungan citra yang foto-sinematis. Hampir selalu menggunakan fotografi sebagai cara untuk menangkap dan merekam subyek-subyeknya, mengolahnya melalui komputer lalu kemudian memindahkannya ke atas kanvas. Sementara Davy Linggar, dikenal seorang fotografer yang kadang melukis dan membuat objek-objek seni. Keduanya menggunakan medium fotografi dalam menangkap realitas dibalik lensa sebagai keberangkatan berkarya. Alih-alih keduanya tak menggunakan fotografi sebagai idiom yang selesai begitu saja. Keduanya punya kecenderungan merekayasa ulang foto maupun obyek yang akan menjadi subyek karyanya. Sebagai tindak lanjut artistik visual maupun sebagai ungkapan kritis terhadap medium, baik fotografi maupun seni lukis.

***

Lewat lukisan terbarunya, Andy menyuguhkan pemandangan bangunan – bangunan yang seolah terabaikan oleh manusianya, hanya ditemani semak belukar dan pepohonan yang hampir menutupi keberadaannya. Sehingga bangunan itu nampak seperti monster-monster dalam lagenda rakyat yang muncul dari dalam hutan yang tak terjamah, dibuang jauh ke jurang ingatan. Bangunan – bangunan terabaikan banyak kita temukan di tengah-tengah hutan atau ditengah belantara komplek permahan dikota-kota besar. Tak berpenghuni bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Di kota-kota seperti Jakarta atau Bandung misalnya, banyak gedung, rumah tua ditinggalkan karena sengketa, atau memang sengaja tak dihuni, yang kemudian sering menjadi dianggap tempat “angker” oleh masyarakat . Cerita-cerita keberadaan mahluk halus yang sering menghuni tempat-tempat seperti itu dan kemudian menjadi lagenda urban, seperti yang ditayangkan melalui reality show dilayar kaca setiap minggu. Inilah sebuah citra horor yang bersemayam dalam ingatan-ingatan kita setiap melewati suasana yang serupa dengan pemandangan itu.

Karya Andy Dewantoro mulai dikenali secara khas dengan menghadirkan rangkaian lukisan panorama sebuah lansekap kota senja hari ke malam. Lampu-lampu temaram menjadi kumpulan cahaya yang tampak berupaya mengalahkan gelap. Seperti yang diutarakan lewat catatan kurator Jim Supangkat lewat catatan pameran tunggal Andy beberapa waktu lalu, gambaran kota pada lukisan Andy bukan merepresentasikan kota yang ia inginkan tapi satu suasana yang menggunakan berbagai imaji tentang kota. Karena kota sebenarnya hanya sebuah media untuk menampilkan suasana ini dan suasana dalam imajinasinya berkaitan dengan pengalaman personal yang sebenarnya tidak langsung punya kaitan dengan suasana kota. Andy memang selalu melakukan observasi langsung dengan mengunjungi dan mengamati kota-kota, baik di dalam maupun luar negeri, untuk kemudian dijadikan gagasan berkaryanya.

Karya-karya Andy, seolah mampu merekonstruksi ingatan – ingatan kita terhadap citra gedung – gedung, rumah dan lansekap tersebut, dengan menghadirkan kembali fragmen – fragmen yang mungkin pernah kita saksikan dalam penggalan sebuah tayangan film atau acara televisi, yang saat ini sebagai acuan kolektif atau konstruksi cara pandang masyarakat global. Lukisan-lukisannya memancarkan citra mental (mental image) , suasana sepi yang melankolis bercampur dengan horor. Dalam beberapa lukisannya, Andy bahkan menampilkan fragmen- fragmen yang cenderung samar (blur) akibat dari penggalan yang diperbesar maupun cara menguaskan catnya. Menambah suasana menjadi temaram penuh misteri.

Suasana atau mood yang diciptakan oleh Andy, seperti juga yang dikemukakan Jim bahwa citra lansekap tersebut merupakan media ungkapan sang seniman. Lalu apakah juga lukisan – lukisan dan karya videonya itu sebagai representasi umum terhadap ingatan-ingatan horor tersebut ? Toh horor yang disebarkan secara serempak oleh media massa juga telah bercokol dalam benak banyak orang. Atau malah Andy lebih berperan sebagai sang sutradara yang mendaur ulang citra horor tersebut untuk kita ? Disini karya-karyanya menghadirkan suatu rangkaian tanda – tanda yang memungkinkan membangkitkan mood tertentu. Ia tak punya intensi menandai konteks sosiologis dan historis dari lansekapnya.

Hal yang serupa dengan karya-karya Davy Linggar, yang menghadirkan serangkaian lukisan dan foto polaroid yang dicetak kembali diatas kanvas. Kita bisa melihat bagaimana ia memainkan tanda-tanda dengan menampilkan citra mahluk, binatang dengan perilakunya yang aneh. Davy membuat lelucon, sinisme, sarkasme dan ironi lewat objek mainan yang ditata sedemikian rupa: dinosaurus, babi, rusa, anak domba, lalu kemudian ia foto dengan polaroid. Lalu ia pindahkan ke atas kanvas sebagai lukisan atau dengan melakukan lelehan dan brush stroke cat diatas medium foto yang dicetak ke kanvas lebih besar setelah dipindai. Sehingga citranya menjadi agak kabur dan samar, tapi kita bisa melihat gambar berubah mood, menjadi tampak enigmatik, liar dan lucu.

Watak karya-karya Davy memang selalu memainkan aspek-aspek ironi dan bahkan hal-hal yang dianggap tabu dalam masyarakat. Dalam karyanya kita bisa perhatikan ada perilaku dinosaurus sedang menyenggamai seekor babi. Seperti yang ia ungkapkan : “ Didalam masyarakat kita saat ini banyak sekali tuntutan sosial yang membuat orang menjadi munafik. Mengharamkan dan mencemooh hal-hal yang sebenarnya justru adalah penolakan dari hasrat mereka yang paling dalam “. Sehingga karya-karyanya menjuktaposisi tanda-tanda yang harus dihindari oleh ingatan kolektif moralitas masyarakat. Watak yang subversif ini justru ingin menelanjangi tiap moral manusia yang diselubungi nilai-nilai yang dibentuk oleh keyakinan dan dogma – dogma. Tiap karya berpotensi untuk mengelupas tiap lapisan-lapisan nilai tersebut, namun dengan suasana bersenang – senang (excitement) yang kadang tak rasional, atau ecrits dalam wacana psikoanalisa Lacanian.

Davy Linggar adalah seorang fotografer dengan cara pandang yang tak lazim dan sekaligus pelukis yang seolah menghayati benar nilai kehidupan dalam masyarakat saat ini. Pengalamannya dalam dunia foto-komersial dan dunia gagasan seni setidaknya banyak berhubungan dengan beragam watak manusia dari berbagai lapisan masyarakat. Hal ini juga mempengaruhi penggunaan spektrum bahasa gambar yang lebih luas, walaupun hampir dipastikan tanda-tanda itu juga berkaitan ungkapan personalnya. Disini kepribadiannya diungkapkan selain dengan penyusunan objek-objek tapi juga dengan kuasan cat diatas citra foto.

Kritikus Hal Foster dalam Return Of The Real mengetengahkan gejala “trauma pada realitas” melalui pengalaman citraan fotografi maupun yang bergerak (film dan televisi ). Gejala kegagalan atau kebingungan persepsi dalam masyarakat kontemporer menghadapi realitas. Ia mencontohkan bagaimana trauma tersebut diartikulasikan dengan memberikan efek samar oleh goresan maupun kuasan, seperti dalam karya-karya fotorealisme Gerhard Richter maupun karya pop art Andy Warhol. Sedangkan karya – karya Andy Dewantoro dan Davy Linggar, keduanya tertarik merekonstruksi realitas baru dari apa yang mereka buat. Mereka berdua menghadirkan ingatan – ingatan personal melalui karya-karya mereka, menjadi tanda-tanda yang bebas tafsir dan beringsut menjamah ingatan-ingatan kita. Ingatan-ingatan yang mungkin saja berada jauh dibalik kesadaran. Ingatan-ingatan yang telah “dingin” mungkin tiba-tiba muncul dan menggerakan hasrat untuk mampu melihat kembali ke dalam realitas lain.

Soedjojono mungkin akan kembali bertanya-tanya, dimana letak jiwa khetok ?

Rifky Effendy. Kurator pameran.

23  April  2010

Happyartland

TERE BLORA

I’m sure everyone who knows Tere agrees that she is a nice person. By nice, I mean friendly, modest, warm, considerate and always helpful. And for those who have seen her artworks will agrees that she is a talented artist. Her first solo exhibition last year was well received by collectors, critics and medias.

Juggling between roles, Tere as a person, as an artist, as a wife and a mother, she embraces life with a happy and easy-going attitude. During preparation of her second show, she told me how she is learning to be positive towards life from her daughter, Blora. I found this statement fascinating, a mother is learning from her barely 2 years old baby girl. But, having spent two days with Blora, I can see what Tere meant. Blora is like any other 2 years old, absorbing new things around her, playing frantically with butterfly, running around, jumping with joys in a car ride, singing and dancing along disco music. Blora is little girl with big presence, when she has a moment with you, she’ll look at you with her round big eyes as if you are the only one in the world that matter to her and from her brown pupil you can actually see yourself, and slowly you will feel peaceful as if everything is and will be fine.

Observing Blora, watching her grow-up, teaching her new things, worrying for her are Tere’s biggest ordeal at the moment and she transformed her love, hope and dream for her daughter into artworks. Her ability to connect her soul, mind and body and projecting her feelings into her art make us feel with her, hope and love with her. A rare quality yet comes natural in Tere and this makes me believe she will become one of the most prominent contemporary Indonesian artists in no time.

Life is beautiful and exciting; truth that diminish along with age, which doesn’t have to be that way. It’s magical, the world of children. It gives us hope and remind us the purpose of living – Loving.

Enjoy HAPPYARTLAND !

vivi yip

18  March  2010

SEHARI

SEHARI
Sari, Capung dan Hidup Hari Ini

Saya pertama kali berkenalan dengan Sari sekitar 3 tahun lalu, ketika itu Sari – begitu ia biasa dipanggil, mengejutkan saya dengan serangkaian karya yang mengetengahkan ikonografi kelinci putih berdarah yang manis sekaligus memancarkan kengerian di saat yang sama. Itu karya yang dibuat di tahun-tahun sebelumnya ketika ia masih terdaftar sebagai mahasiswi di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.
Gabriella Prima Puspita Sari merupakan salah satu dari perupa perempuan yang aktif berkarya secara produktif di generasinya – angkatan yang mulai aktif berkarya sejak pertengahan 2000an, dengan karya-karya yang mencerminkan latar belakang seni grafis yang kuat, dan banyak ia eksperimentasikan dalam bentuk digital print, fotografi, silkscreen, dan pola grafis di atas kanvas.
Karya-karya Sari banyak menampilkan simbol-simbol pribadi dari perasaan serta kontemplasi personalnya akan hidup, yang ia ketengahkan lagi dengan permainan warna untuk memperkuat narasi dari simbol-simbol tersebut. Seperti karya-karyanya dulu itu, yang mengetengahkan warna putih dan merah, dengan ikon kelinci berbulu putih yang naif dan lucu dikontraskan dengan warna merah darah, merefleksikan gejolak perasaannya pada saat itu. Warna, dan objek spesifik selalu menjadi elemen penting dalam karya-karyanya.
Setelah itu, Sari kemudian melangkah ke fase selanjutnya. Sari saat ini sudah menjadi ibu seorang putra, Gandewa (Dewa), buah hatinya bersama sang suami yang juga seniman, Rona Narendra. Karya-karyanya yang kemudian tampak lebih kontemplatif yang menyiratkan kematangannya dalam fase hidup yang sekarang, dan memakai teknik yang berbeda namun tetap dengan metode yang sama: simbolisme dan warna, dengan ikon serangga yang dibalurkan dengan beragam warna yang masing-masing mewakili berbagai ekspresi filosofi pribadinya saat ini.
Di fase hidup Sari 2 tahun belakangan ini, Sari mengetengahkan capung sebagai ikon karya-karyanya yang sebelum ini telah mengikuti sejumlah pameran kolektif dengan teman-teman segenerasi di berbagai tempat, dengan fragmen-fragmen ikonografi capung dengan permainan warna yang kemudian menarik banyak orang untuk mulai mengenal karyanya.
Baru pada kesempatan pameran solo ke dua-nya ini Sari dapat mengetengahkan sang capung dalam satu rangkaian karya dengan narasi yang utuh. Rangkaian karya dalam pameran ini sebagian mulai dibuat ketika ia masih mengandung Dewa, dan sebagian lagi sehabis melahirkan, mencoba menyeimbangkan antara pengalaman sebagai ibu baru dengan merawat bayinya sambil terus berkarya.

Capung dalam karya-karyanya adalah seperti sebuah karakter ‘teman imajiner’ yang selalu hadir dalam hidup barunya ini. Sari sendiri tidak terlalu mencoba membuat penjelasan yang berlebihan mengenai pengetengahan sang capung ini dalam proses pengkaryaannya. Ia hanya tahu, capung – seperti juga beberapa serangga lainnya, hidup hanya sampai 24 jam – walau larvanya sebelumnya bisa tumbuh bertahun-tahun dalam kepompong. Begitu lepas, capung terbang dan menikmati hidupnya yang hanya sehari – yang bagi kita mungkin tak berarti dan lewat begitu saja, tapi menjadi keseluruhan hidup baginya.
Dan itulah yang ingin disampaikan Sari dengan pameran ‘Sehari’ ini. Bagaimana hidup keseharian dengan segala kesederhanaan, rutinitas, kisah-kisah kecil dan persoalan-persoalan membumi yang dihadapi bisa menjadi begitu berarti bagi seseorang, walau mungkin bisa juga dianggap remeh atau lewat begitu saja bagi orang lain.
12 karyanya dalam pameran ini dibagi 4 bagian: serial Pagi, Siang, Sore dan Malam. Warna-warna biru, hijau mendominasi bagian Pagi dan Siang, Sore diliputi oleh nuansa merah jingga bagai senja. Untuk menandai waktu itu, Sari juga menampilkan objek-objek yang menyiratkan benda-benda, kegiatan serta lingkungan sehari-hari seperti kereta bayi, tanaman, perabot dapur dan televisi di ruang tamu. Malam dengan hitam yang diakhiri dengan lukisan penutup bernuansa putih di atas putih, menandai akhir dari hidup sehari si Capung, teman imajinernya yang menjadi maskot bagi keseharian hidup Sari dan rumah tangganya yang sedang bermulai. Dimana setiap hari dalam hidup menjadi harus dihargai dan berarti, seperti tak akan ada esok lagi.
Setelah ini, capung yang mati di akhir hari itu mungkin akan bermetamorfosa menjadi sesuatu yang baru, menandai fase baru dalam hidup Sari. Hari yang baru di masa depan, membawa eksplorasi baru, bentuk baru, warna-warni yang baru. Yang pastinya, selalu patut ditunggu.

Farah Wardani
Jogja, Maret 2010

03  March  2010

Liaison

PRIVЀ

Seni dalam kecenderungan mutakhirnya telah berkelindan erat dengan dunia di luar seni itu sendiri. Persoalan “apa itu seni” telah tergantikan dengan “apa yang bisa kita bicarakan melalui seni”. Seni bisa menemukan kembali posisinya dalam masyarakat setelah seni modern membuatnya terbang tinggi meninggalkan dunia sekitarnya. Hal ini membuka peluang seluas-luasnya men-dayagunakan seni sebagai perangkat yang terintegrasi dengan masyarakatnya, mengabdikan dirinya bagi masyarakat. Anggapan yang wajar jika melihat seni sebagai sarana pengingat, refleksi, maupun penjaga nilai. Atas kesadaran inilah kelompok kami mengikatkan diri pada kecenderungan berkarya yang membaca masyarakat (perkotaan) dengan segala tingkah polahnya.

Menjadi sebuah proses yang nyaris alami saat kami melihat kehidupan urban sebagai sesuatu yang sangat appealing, terlepas dari baik-buruknya kenyataan di dalamnya. Hingga akhirnya kami mengangkat tema seputar fake, envy, unfulfilled desire pada pameran ini tidak terlepas pada usaha kami dalam membaca persoalan-persoalan yang hadir dalam masyarakat itu sendiri.

Masyarakat urban, masyarakat kapital, atau apapun juga penamaannya dekat dengan mekanisme yang menggiring anggota di dalamnya ke dalam pusaran pemuasan hasrat tanpa henti. Mekanisme yang diatur oleh pihak-pihak dengan kekuatan modal, yang meninggalkan “pihak awam” dalam ketidaktahuan yang membuat mereka seakan-akan semua mekanisme itu suatu hal yang alami. Semua orang berlomba-lomba mengkoleksi benda-benda dengan nilai “tinggi” demi memompa apa yang kita sebut ‘prestise’, vanity, sebelum disadari betapa besarnya kemungkinan eksploitasi oleh pihak-pihak dengan kekuatan modal dan kekuatan politik terhadap diri mereka.

Melalui karya-karya yang kami pamerkan, terlacak jejak pembacaan dan pemaknaan pada fenomena sosial ini. Setiap karya memiliki muatan maupun intensitas yang beragam, namun berangkat dari sebuah pemahaman bersama pada fenomena tersebut. Karya-karya ini bisa memberikan beragam perspektif pemaknaan, terutama melalui beragamnya media di dalamnya mengingat latar belakang kelompok kami yang berasal dari berbagai jurusan, baik seni maupun desain.

Dengan demikian pula, pola pengkaryaan pun niscaya beragam. Kecenderung pembacaan, pemaknaan, maupun pemilihan media, material menjadi sangat berpijak pada pemahaman personal, khususnya pada pemilihan media yang digeluti dengan intens oleh masing-masing anggotanya. Karya-karya trimatra seperti pada karya Willy, Saraswati, Fryza, Karisma, maupun Dhana kendati sama-sama memiliki bentuk konkret 3-dimensi namun bisa terlihat berbagai perbedaan pendekatan diantaranya. Latar belakang seni patung pada Willy membawanya dalam kecenderungan pengkaryaan patung yang mengutamakan pemahaman pada bentuk dan ruang, serta teks dan konteksnya. Sedangkan latar belakang desain produk pada Saraswati, Fryza, Karisma, dan Dana membentuk pemahaman mereka pada kekuatan semantik dari sebuah objek atau produk. Stilasi bentuk berlian pada karya Saraswati, permainan nirmana melalui objek peniti pada karya Karisma, narasi pada cincin-cincin Fryza, dan permainan skala pada objek asbak Dhana memperlihatkan bagaimana faktor fungsi dan semantik pada sebuah objek atau produk dapat dieksplorasi sedemikian rupa untuk mencapai sebuah pemaknaan baru.

Begitu pula pada karya-karya dwimatra dari Charda, Satria, Theo, Wastu, Sutra, Wulan, Dimas, Arief, dan Nassya. Masing-masing memperlihatkan jejak bidang yang mereka geluti di akademi. Fotografi Charda dan cetak saring Satria memperlihatkan latar belakang mereka yaitu seni grafis. Begitu juga dengan Theo dan Wastu yang menggeluti seni lukis. Teknik-teknik eksplorasi serat dan tekstil pada karya yarn-painting Sutra dan shredding on canvas pada karya Wulan serta gambar-gambar kerja dan penggunaan material akrilik pada karya Dimas, Arief, dan Nassya juga memperlihatkan kentalnya pengaruh kriya tekstil dan desain interior.

Perkembangan seni selain membuka peluang dalam pembacaan fenomena-fenomena budaya dan masyarakat, juga membuka peluang dalam meleburnya batas-batas antara benda fungsi dan benda seni. Hal ini memperlihatkan hadirnya kebebasan sebagai tanda perubahan yang menyertai zaman ini. Walau demikian, perihal seni sebagai praktek pemaknaan yang menjadi bagian dari usaha manusia untuk terus meningkatkan derajatnya tentu sulit lepas dari pola-pola produksi dan konsumsi yang sejalan dengan pola kapitalisme mutakhir. Hal yang ironisnya dibeberapa sisi dapat mendistorsi nilai seni, yang selain mencakup nilai ekonomi semestinya juga mencakup nilai simbolik. Inilah sebuah fenomena, sebuah keadaan. Bagaimana seni, melalui caranya sendiri memperlihatkan hal itu sejernih mungkin untuk kemudian menyadarkan dan menggerakkan tentu bisa menjadi sebuah impian yang sesuai bagi sebuah pencapaian.

Bandung, 19 feb 2010

03  February  2010

Secret Gardens

abstract impressionist paintings capture the exuberant lightness of a garden in bloom

agus baqul’s secret garden

curated by kadek krishna adidharma

06 – 20 February 2010
viviyipartroom Lot 2 – 3, The Promenade

Jl. Warung Buncit Raya No. 98. Tel. 021 7900 480

Entering Agus Baqul’s Secret Garden is an invigorating experience. Bougainvillea, jasmine, ylang-ylang, dahlia, flame-tree, hydrangea, roses, sunflowers, water lilies and queen of the night, each painting in this bouquet of abstract impressionist art is inspired by flowers in an explosion of colour. A vibrant burst of life emerges from each canvas, drawing the viewer into a world of burgeoning growth. The layer upon layer of numbers that make up each image is more than mere code. The numbers sing, shimmer, blend and dance in unison, enticing the viewer with their secrets.

Inspired by a well-ordered garden bursting through its traditional boundaries, Secret Garden is like a tropical garden left untended for a week during rainy season. There is some semblance of order, or structure, but the frenetic energy of life, in search of light and space, has taken over. Above any idea of structure, there is a seething mass of motion, rhythm and light converging at the verge edge chaos.

And such is life in this country of burgeoning development. Any semblance of law and order is drowned in a frenetic frenzy of economic growth and rush for survival. Almost all the elements on this archipelagic canvas are in motion, striving for life-sustaining light. Occasionally patterns emerge, but they are overtaken by other patterns, and then yet others. They grow and grow and threaten to reach chaos, but are held in check by the laws of nature, by the mutual limitations of co-existence.

Through his abstraction of numbers, Agus Baqul frees these flowers from the visual order enforced by aesthetic tendencies in both painting and gardening. For instance, his depiction of the tropical flame-tree, also known as the peacock flower or flamboyant, is a mesmerizing achievement of repetition that defies patterning. Agus celebrates the energy of life that exists within the plants themselves.

Born in Kendal on the north coast of Central Java in 1975, Agus ‘baqul’ Purnomo is no stranger to the art scene. He has been creating artworks for over a decade, since his college years at the Indonesian Institute of Art, Yogyakarta (ISI). Since March 2007, he has been exploring abstract paintings using numbers as its basic element. In using this technique to respond to natural and cosmic themes, Agus has developed his own unique style of abstract impressionism. His works have been shown at various exhibitions and galleries throughout Indonesia as well as in Malaysia, Philippines, Taiwan, Japan and the United States. He has also participated in numerous visual art projects. His works are currently in the collection of the Taiwan National Museum and the Museum of Small Arts, Malaysia (MoSA).

Kegembiraan yang tidak terkira ketika saya diundang oleh Fukuoka Asian Art Museum untuk terlibat di acara The 4th Fukuoka Asian Art Triennale yang berlangsung bulan September – November 2009 di kota Fukuoka, Jepang pada tahun lalu.

Saya tinggal selama 40 hari di Fukuoka. Saya belajar banyak disana. Juga punya banyak waktu untuk jalan – jalan, berkenalan bereksperimen. Dalam waktu singkat saya punya banyak teman. 2 folder yang saya bawa dari Fukuoka ini adalah hasil relasi saya dengan situasi yang acak yang saya hadapi saat itu. Jadi seperti catatan harian.

Histeri s menemukan banyak mainan Doraemon asli dari jepang. Kureyon Shin-chan saya scan sehari sebelum Yoshito Usui sang kreatornya pergi ke gunung untuk holiday yang kemudian ditemukan tewas di bawah jurang.

Potongan – potongan cerita ini saya anggap penting karena saya lebih mudah mencernanya karena akhirnya saya bisa berkomunikasi dengan nyaman melalui gambar – gambar saya dengan anda.

Angki Purbandono.

25  December  2009

Love Affair

Fantasma
Pada tatapan pertama, yang tertangkap di situ adalah sebuah tata ruang: Meja makan dengan enam kursi, peralatan makan, lampu gantung, pintu dan lukisan-lukisan serupa hiasan tergantung di dinding. Sekilas menyerupai pemandangan ‘biasa’ yang kita temui di rumah-rumah kaum urban, benda-benda itu ditata untuk menciptakan suasana sebuah ruang makan. Berada di situ berlama-lama, bayangkan sensasi yang menyergap kita secara perlahan. Rasakan keganjilan-keganjilan yang datang samar-samar ketika kita amati secara lebih rinci, misalnya, sudut meja yang meleleh, peralatan makan yang terpiuh, benda-benda aneh yang tertata sebagai makanan, beberapa bagian lampu gantung yang menggumpal-gumpal tak berbentuk dan benda-benda lain berwarna putih—bahkan pada kain-kain kanvas berserat putih pun yang ada hanya sapuan-sapuan cat berwarna putih. Ya, di dalam ruangan ini, para pemirsa dikepung oleh benda-benda yang nyaris seluruhnya putih.

Kebohongan di ruang makan

Sejak awal 2009, Syagini Ratna Wulan, alias Cagi, mempersiapkan presentasi pameran ini sebagai awal dari sebuah proyek seni jangka panjang. Ia menamainya Love Affair, sebuah proyek yang dikatakannya, “…berangkat dari sesuatu yang sangat sederhana dan mendasar karena mempersoalkan hubungan emosional antar manusia yang paling manusiawi.” Love Affair akan diwujudkan dalam tiga pameran yang masing-masing mengusung episode yang berbeda. The Dining Room / White Lies adalah pameran pertama dari rangkaian proyek tersebut.

Kali ini Cagi menyajikan beragam karya dengan berbagai medium yang ditekuninya—lukisan, gambar, bordir, objek / patung, perhiasan, pakaian, sampai suara. Meskipun masing-masing elemen itu bisa dilihat sebagai karya-karya yang mandiri dan terpisah, Love Affair pt. one: The Dining Room / White Lies pada dasarnya adalah sebuah karya instalasi yang mengusung satu pernyataan utuh.

Penting digarisbawahi bagaimana kehadiran ruang makan di dalam ruang pamer bukanlah suatu instalasi yang berbicara secara ‘langsung’ kepada kita sebagai objek simbolik. Secara menyeluruh instalasi ini berhubungan dengan gagasan dan cara ungkap yang lebih kompleks. Terinspirasi oleh novel karangan penulis erotika asal Prancis, Anais Nin, A Spy in the House of Love (1954), The Dining Room / White Lies adalah karya yang menjelajahi persoalan-persoalan psikis dan interioritas manusia: cinta, kasih sayang dan hasrat. Seringkali menjadikan kisah hidupnya sendiri sebagai sumber inspirasi, Anais Nin dikenal sebagai seorang penulis perempuan dengan perjalanan hidup yang penuh intrik dan affair. Karya-karyanya banyak mengungkap kisah hubungan antar manusia yang dianggap tabu atau menyimpang, seperti biseksualisme dan incest.

A Spy in the House of Love menceritakan kisah seorang perempuan bernama Sabina—diduga merupakan personifikasi dari sosok sang pengarang sendiri—yang hidup dengan hasrat berkepanjangan untuk merayu setiap pria yang dianggapnya menarik. Sabina menjalani kehidupan cinta ganda, termasuk untuk bersembunyi dari suaminya, Alan. Kehidupan Sabina digambarkan terus-menerus berada dalam ketegangan untuk memenuhi ekpresi seksual dan hasrat akan cinta di satu sisi, dan melawan tabu dan batasan-batasan sosial di sisi yang lain.

Love Affair pt. one: The Dining Room / White Lies menggunakan ‘ruang makan’ sebagai suatu idiom. Dalam tata hidup masyarakat urban modern, ruang makan tak hanya berfungsi sebagai tempat di mana makanan disajikan dan disantap, tapi juga sebagai ruang di mana persentuhan dan interaksi sosial berlangsung—misalnya, antara seorang ibu dengan anak, atau anggota keluarga yang lain; antara seorang tuan rumah dengan tamunya; atau, antara seseorang dengan dirinya sendiri. Dalam pengertian itu pula, ruang makan tidak pernah mengikat perilaku manusia secara tetap dan pasti. Percakapan di ruang makan boleh jadi sama pentingnya dengan perdebatan dalam rapat di kantor, di dalam kamar tidur, atau di ruang sidang para wakil rakyat sekalipun. Negosiasi politik, perselingkuhan, rencana baik maupun jahat sangat mungkin muncul di ruang makan. Meskipun terdapat berbagai tabu dalam tata cara / kebiasaan makan yang berbeda, kita boleh membayangkan ruang makan Cagi sebagai sebuah latar di mana berbagai kejadian yang mungkin dan yang musykil berlangsung.

Idiom ruang makan dalam karya Cagi bisa dilihat sebagai teks terbuka tentang pendobrakan berbagai konvensi sosial yang didorong oleh sifat-sifat alamiah manusia, makhluk yang tetap punya insting-insting purba yang menghalalkan berbagai kelicikan untuk mendapatkan keuntungan.

Fantasi

Dalam kancah seni rupa, Syagini Ratna Wulan dikenal sebagai seniman muda yang mulai aktif berpameran di dalam maupun luar negeri pada awal 2000-an. Setelah lulus dari ITB sebagai sarjana seni rupa (2001), Cagi melanjutkan kuliah masternya di Goldsmith College, University of London, Inggris, dengan minat utama Cultural Studies (2005 – 2006). Selama berada di luar negeri aktifitas kesenirupaannya memang menurun, tapi keinginannya untuk terus berkarya sebagai seniman tak pernah surut.

Setelah lebih dari sepuluh tahun lamanya—sejak mengenalnya sebagai seorang calon mahasiswa seni rupa yang jago menggambar—saya merasa cukup memahami strategi artistik yang Cagi terapkan dalam karya-karyanya. Karya-karya Cagi mewakili temperamen, gagasan dan caranya berpikirnya yang melompat-lompat, bahkan cenderung liar (karakter itu seringkali saya juga temukan pada gaya bicaranya yang ‘tak stabil’: meledak-ledak di satu waktu, lantas berubah lemah-lembut di waktu yang lain). Kreatifitasnya yang bercabang-cabang menyebabkan ia tak pernah puas dengan satu jenis atau bentuk ekspresi saja. Sejak kembali dari London, ia aktif di dunia fesyen dan musik anak muda di Bandung dan Jakarta. Selain merancang furnitur dan interior, ia dikenal sebagai fashion stylist untuk beberapa kelompok musik independen di Bandung.

Sejak periode awal kekaryaannya, Cagi dikenal dengan pemilihan idiom-idiom visualnya yang seringkali non-linier. Kegemarannya pada narasi-narasi absurd dan fantastik dalam film dan musik, dan ketertarikan intelektualnya pada kecenderungan regresif kaum Surrealis banyak memberikan pengaruh penting. Karya-karya Cagi pada dasarnya selalu merupakan reaksi terhadap kenyataan sehari-hari yang banal. Namun, berbeda dengan pendekatan realisme yang cenderung menghadirkan kembali kenyataan, karya-karya Cagi selalu idiosinkratik, enigmatik, sekaligus ‘khas feminin’. Ia banyak menjelajahi persoalan fantasi, ketidaksadaran manusia melalui pendekatan tafsir teks—seperti terlihat dalam instalasinya The Ten Commandments (2001) yang berwujud sabun mandi dengan cetakan tulisan sepuluh perintah Allah; atau pada Delirium (2002) yang memajang benda-benda keseharian dalam bejana-bejana kaca berisi cairan kimia untuk mempersoalkan halusinasi masyarakat konsumer.

Secara menyeluruh, instalasi The Dining Room / White Lies menggeser metafor-metafor stereotip tentang cinta ke dalam konotasinya yang lebih liar yang subversif.  Ketika menggarap proyek ini, Cagi menemukan relevansi yang menarik antara persoalan hasrat purbawi manusia dengan karakter Sabina dalam buku Anais Nin. Bagi Cagi, Sabina adalah karakter yang menggambarkan fantasi dan hasrat alamiah seorang perempuan, yang ternyata harus diwujudkan dengan cara melakukan kebohongan dan pengkhianatan.

Namun pendekatan yang ditempuh Cagi dalam menampilkan persoalan kebohongan tergolong unik. Dalam ruang makan itu ia menyajikan sejumlah objek, lukisan dan bordir yang didominasi oleh bentuk-bentuk tengkorak dan tulang belulang manusia dan binatang. Dalam pemahaman umum, bentuk-bentuk itu memang identik dengan persoalan ‘kematian’. Namun Cagi menggambarkan tulang belulang itu sebagai representasi dari ‘rahasia terbesar’ dalam hidup seseorang. “Kebohongan, perselingkuhan dan pengkhianatan itu seperti tulang belulang. Ia mungkin tak terlihat karena terpendam di bawah kulit sepanjang kita hidup. Tapi seperti juga tulang-belulang, rahasia-rahasia yang kita sembunyikan dari orang lain bisa jadi menunjukkan siapa sebenarnya jati diri kita,” ujarnya suatu ketika. Rahasia dan  tabu adalah kenyataan-kenyataan yang selama ini tersembunyi dan ‘terepresi’ oleh norma sosial.

Proyek Love Affair yang pertama ini menegaskan sosok Cagi sebagai seniman muda Indonesia yang mengusung pemikiran dan cara ungkap khas pasca-sembilanpuluhan. Ia tak tertarik mengomentari persoalan-persoalan sosial-politik yang aktual dan ‘sempit’ dengan cara-cara yang banal. Karya-karya Cagi tidak menganut suatu faham simbolisme tertentu. Alih-alih, secara bebas Cagi menggunakan fantasi sebagai instrumen untuk melepaskan stereotip persepsi sosial yang sering menghambat keinginan kita untuk berpikir dan bertindak tak logis / irasional. Karya-karyanya membiarkan para pemirsanya terlebih dahulu terombang-ambing dalam disorientasi tanda-tanda, untuk akhirnya menemukan makna dengan cara-cara yang ilusif dan fantasmagoris.
Agung Hujatnikajennong