COLD MEMORIES

Category: Curatorial

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes but in having new eyes.
– Marcel Proust (1871 – 1922)

Sejak jaman ketika S. Soedjojono mengritisi corak lukisan yang dijulukinya “ Hindia Molek “ atau dikenal “Mooi Indie”, sebenarnya yang disebut realitas dalam cara pandang para pelukis serta merta menjadi problematis. Soedjojono seolah berartikulasi dengan persoalan persepsi terhadap apa yang terlihat dan diyakini (way of seeing and belief ), bahwa realitas adalah suatu konstruksi yang dibentuk oleh manusia modern, terutama oleh perkembangan teknologi (fotografi dan media baru) dan posisi subyek ketika memandang suatu lansekap atau kenyataan disekitarnya. Dalam hal ini Soedjojono berupaya membedah cara pandang kolonial terhadap realita alam sekitarnya yang selalu dihadirkan dengan cantik, indah, damai tanpa problematika. Bisa dikatakan dalam pameran dua perupa ini memperlihatkan olahan lanjut dari kritik dan artikulasi dalam membedah realitas yang disebutkan Soedjojono. Kedua perupa Andy Dewantoro dan Davy Linggar, masing – masing tertarik dengan melukis, fotografi, serta teknologi media baru, walaupun dengan cara yang berbeda.

Andy Dewantoro adalah seorang pelukis dengan kecenderungan citra yang foto-sinematis. Hampir selalu menggunakan fotografi sebagai cara untuk menangkap dan merekam subyek-subyeknya, mengolahnya melalui komputer lalu kemudian memindahkannya ke atas kanvas. Sementara Davy Linggar, dikenal seorang fotografer yang kadang melukis dan membuat objek-objek seni. Keduanya menggunakan medium fotografi dalam menangkap realitas dibalik lensa sebagai keberangkatan berkarya. Alih-alih keduanya tak menggunakan fotografi sebagai idiom yang selesai begitu saja. Keduanya punya kecenderungan merekayasa ulang foto maupun obyek yang akan menjadi subyek karyanya. Sebagai tindak lanjut artistik visual maupun sebagai ungkapan kritis terhadap medium, baik fotografi maupun seni lukis.

***

Lewat lukisan terbarunya, Andy menyuguhkan pemandangan bangunan – bangunan yang seolah terabaikan oleh manusianya, hanya ditemani semak belukar dan pepohonan yang hampir menutupi keberadaannya. Sehingga bangunan itu nampak seperti monster-monster dalam lagenda rakyat yang muncul dari dalam hutan yang tak terjamah, dibuang jauh ke jurang ingatan. Bangunan – bangunan terabaikan banyak kita temukan di tengah-tengah hutan atau ditengah belantara komplek permahan dikota-kota besar. Tak berpenghuni bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Di kota-kota seperti Jakarta atau Bandung misalnya, banyak gedung, rumah tua ditinggalkan karena sengketa, atau memang sengaja tak dihuni, yang kemudian sering menjadi dianggap tempat “angker” oleh masyarakat . Cerita-cerita keberadaan mahluk halus yang sering menghuni tempat-tempat seperti itu dan kemudian menjadi lagenda urban, seperti yang ditayangkan melalui reality show dilayar kaca setiap minggu. Inilah sebuah citra horor yang bersemayam dalam ingatan-ingatan kita setiap melewati suasana yang serupa dengan pemandangan itu.

Karya Andy Dewantoro mulai dikenali secara khas dengan menghadirkan rangkaian lukisan panorama sebuah lansekap kota senja hari ke malam. Lampu-lampu temaram menjadi kumpulan cahaya yang tampak berupaya mengalahkan gelap. Seperti yang diutarakan lewat catatan kurator Jim Supangkat lewat catatan pameran tunggal Andy beberapa waktu lalu, gambaran kota pada lukisan Andy bukan merepresentasikan kota yang ia inginkan tapi satu suasana yang menggunakan berbagai imaji tentang kota. Karena kota sebenarnya hanya sebuah media untuk menampilkan suasana ini dan suasana dalam imajinasinya berkaitan dengan pengalaman personal yang sebenarnya tidak langsung punya kaitan dengan suasana kota. Andy memang selalu melakukan observasi langsung dengan mengunjungi dan mengamati kota-kota, baik di dalam maupun luar negeri, untuk kemudian dijadikan gagasan berkaryanya.

Karya-karya Andy, seolah mampu merekonstruksi ingatan – ingatan kita terhadap citra gedung – gedung, rumah dan lansekap tersebut, dengan menghadirkan kembali fragmen – fragmen yang mungkin pernah kita saksikan dalam penggalan sebuah tayangan film atau acara televisi, yang saat ini sebagai acuan kolektif atau konstruksi cara pandang masyarakat global. Lukisan-lukisannya memancarkan citra mental (mental image) , suasana sepi yang melankolis bercampur dengan horor. Dalam beberapa lukisannya, Andy bahkan menampilkan fragmen- fragmen yang cenderung samar (blur) akibat dari penggalan yang diperbesar maupun cara menguaskan catnya. Menambah suasana menjadi temaram penuh misteri.

Suasana atau mood yang diciptakan oleh Andy, seperti juga yang dikemukakan Jim bahwa citra lansekap tersebut merupakan media ungkapan sang seniman. Lalu apakah juga lukisan – lukisan dan karya videonya itu sebagai representasi umum terhadap ingatan-ingatan horor tersebut ? Toh horor yang disebarkan secara serempak oleh media massa juga telah bercokol dalam benak banyak orang. Atau malah Andy lebih berperan sebagai sang sutradara yang mendaur ulang citra horor tersebut untuk kita ? Disini karya-karyanya menghadirkan suatu rangkaian tanda – tanda yang memungkinkan membangkitkan mood tertentu. Ia tak punya intensi menandai konteks sosiologis dan historis dari lansekapnya.

Hal yang serupa dengan karya-karya Davy Linggar, yang menghadirkan serangkaian lukisan dan foto polaroid yang dicetak kembali diatas kanvas. Kita bisa melihat bagaimana ia memainkan tanda-tanda dengan menampilkan citra mahluk, binatang dengan perilakunya yang aneh. Davy membuat lelucon, sinisme, sarkasme dan ironi lewat objek mainan yang ditata sedemikian rupa: dinosaurus, babi, rusa, anak domba, lalu kemudian ia foto dengan polaroid. Lalu ia pindahkan ke atas kanvas sebagai lukisan atau dengan melakukan lelehan dan brush stroke cat diatas medium foto yang dicetak ke kanvas lebih besar setelah dipindai. Sehingga citranya menjadi agak kabur dan samar, tapi kita bisa melihat gambar berubah mood, menjadi tampak enigmatik, liar dan lucu.

Watak karya-karya Davy memang selalu memainkan aspek-aspek ironi dan bahkan hal-hal yang dianggap tabu dalam masyarakat. Dalam karyanya kita bisa perhatikan ada perilaku dinosaurus sedang menyenggamai seekor babi. Seperti yang ia ungkapkan : “ Didalam masyarakat kita saat ini banyak sekali tuntutan sosial yang membuat orang menjadi munafik. Mengharamkan dan mencemooh hal-hal yang sebenarnya justru adalah penolakan dari hasrat mereka yang paling dalam “. Sehingga karya-karyanya menjuktaposisi tanda-tanda yang harus dihindari oleh ingatan kolektif moralitas masyarakat. Watak yang subversif ini justru ingin menelanjangi tiap moral manusia yang diselubungi nilai-nilai yang dibentuk oleh keyakinan dan dogma – dogma. Tiap karya berpotensi untuk mengelupas tiap lapisan-lapisan nilai tersebut, namun dengan suasana bersenang – senang (excitement) yang kadang tak rasional, atau ecrits dalam wacana psikoanalisa Lacanian.

Davy Linggar adalah seorang fotografer dengan cara pandang yang tak lazim dan sekaligus pelukis yang seolah menghayati benar nilai kehidupan dalam masyarakat saat ini. Pengalamannya dalam dunia foto-komersial dan dunia gagasan seni setidaknya banyak berhubungan dengan beragam watak manusia dari berbagai lapisan masyarakat. Hal ini juga mempengaruhi penggunaan spektrum bahasa gambar yang lebih luas, walaupun hampir dipastikan tanda-tanda itu juga berkaitan ungkapan personalnya. Disini kepribadiannya diungkapkan selain dengan penyusunan objek-objek tapi juga dengan kuasan cat diatas citra foto.

Kritikus Hal Foster dalam Return Of The Real mengetengahkan gejala “trauma pada realitas” melalui pengalaman citraan fotografi maupun yang bergerak (film dan televisi ). Gejala kegagalan atau kebingungan persepsi dalam masyarakat kontemporer menghadapi realitas. Ia mencontohkan bagaimana trauma tersebut diartikulasikan dengan memberikan efek samar oleh goresan maupun kuasan, seperti dalam karya-karya fotorealisme Gerhard Richter maupun karya pop art Andy Warhol. Sedangkan karya – karya Andy Dewantoro dan Davy Linggar, keduanya tertarik merekonstruksi realitas baru dari apa yang mereka buat. Mereka berdua menghadirkan ingatan – ingatan personal melalui karya-karya mereka, menjadi tanda-tanda yang bebas tafsir dan beringsut menjamah ingatan-ingatan kita. Ingatan-ingatan yang mungkin saja berada jauh dibalik kesadaran. Ingatan-ingatan yang telah “dingin” mungkin tiba-tiba muncul dan menggerakan hasrat untuk mampu melihat kembali ke dalam realitas lain.

Soedjojono mungkin akan kembali bertanya-tanya, dimana letak jiwa khetok ?

Rifky Effendy. Kurator pameran.

Tag:
Published: April 30, 2010





Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2022 viviyip artroom · webdesign by rio