SEHARI

Category: Curatorial

SEHARI
Sari, Capung dan Hidup Hari Ini

Saya pertama kali berkenalan dengan Sari sekitar 3 tahun lalu, ketika itu Sari – begitu ia biasa dipanggil, mengejutkan saya dengan serangkaian karya yang mengetengahkan ikonografi kelinci putih berdarah yang manis sekaligus memancarkan kengerian di saat yang sama. Itu karya yang dibuat di tahun-tahun sebelumnya ketika ia masih terdaftar sebagai mahasiswi di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.
Gabriella Prima Puspita Sari merupakan salah satu dari perupa perempuan yang aktif berkarya secara produktif di generasinya – angkatan yang mulai aktif berkarya sejak pertengahan 2000an, dengan karya-karya yang mencerminkan latar belakang seni grafis yang kuat, dan banyak ia eksperimentasikan dalam bentuk digital print, fotografi, silkscreen, dan pola grafis di atas kanvas.
Karya-karya Sari banyak menampilkan simbol-simbol pribadi dari perasaan serta kontemplasi personalnya akan hidup, yang ia ketengahkan lagi dengan permainan warna untuk memperkuat narasi dari simbol-simbol tersebut. Seperti karya-karyanya dulu itu, yang mengetengahkan warna putih dan merah, dengan ikon kelinci berbulu putih yang naif dan lucu dikontraskan dengan warna merah darah, merefleksikan gejolak perasaannya pada saat itu. Warna, dan objek spesifik selalu menjadi elemen penting dalam karya-karyanya.
Setelah itu, Sari kemudian melangkah ke fase selanjutnya. Sari saat ini sudah menjadi ibu seorang putra, Gandewa (Dewa), buah hatinya bersama sang suami yang juga seniman, Rona Narendra. Karya-karyanya yang kemudian tampak lebih kontemplatif yang menyiratkan kematangannya dalam fase hidup yang sekarang, dan memakai teknik yang berbeda namun tetap dengan metode yang sama: simbolisme dan warna, dengan ikon serangga yang dibalurkan dengan beragam warna yang masing-masing mewakili berbagai ekspresi filosofi pribadinya saat ini.
Di fase hidup Sari 2 tahun belakangan ini, Sari mengetengahkan capung sebagai ikon karya-karyanya yang sebelum ini telah mengikuti sejumlah pameran kolektif dengan teman-teman segenerasi di berbagai tempat, dengan fragmen-fragmen ikonografi capung dengan permainan warna yang kemudian menarik banyak orang untuk mulai mengenal karyanya.
Baru pada kesempatan pameran solo ke dua-nya ini Sari dapat mengetengahkan sang capung dalam satu rangkaian karya dengan narasi yang utuh. Rangkaian karya dalam pameran ini sebagian mulai dibuat ketika ia masih mengandung Dewa, dan sebagian lagi sehabis melahirkan, mencoba menyeimbangkan antara pengalaman sebagai ibu baru dengan merawat bayinya sambil terus berkarya.

Capung dalam karya-karyanya adalah seperti sebuah karakter ‘teman imajiner’ yang selalu hadir dalam hidup barunya ini. Sari sendiri tidak terlalu mencoba membuat penjelasan yang berlebihan mengenai pengetengahan sang capung ini dalam proses pengkaryaannya. Ia hanya tahu, capung – seperti juga beberapa serangga lainnya, hidup hanya sampai 24 jam – walau larvanya sebelumnya bisa tumbuh bertahun-tahun dalam kepompong. Begitu lepas, capung terbang dan menikmati hidupnya yang hanya sehari – yang bagi kita mungkin tak berarti dan lewat begitu saja, tapi menjadi keseluruhan hidup baginya.
Dan itulah yang ingin disampaikan Sari dengan pameran ‘Sehari’ ini. Bagaimana hidup keseharian dengan segala kesederhanaan, rutinitas, kisah-kisah kecil dan persoalan-persoalan membumi yang dihadapi bisa menjadi begitu berarti bagi seseorang, walau mungkin bisa juga dianggap remeh atau lewat begitu saja bagi orang lain.
12 karyanya dalam pameran ini dibagi 4 bagian: serial Pagi, Siang, Sore dan Malam. Warna-warna biru, hijau mendominasi bagian Pagi dan Siang, Sore diliputi oleh nuansa merah jingga bagai senja. Untuk menandai waktu itu, Sari juga menampilkan objek-objek yang menyiratkan benda-benda, kegiatan serta lingkungan sehari-hari seperti kereta bayi, tanaman, perabot dapur dan televisi di ruang tamu. Malam dengan hitam yang diakhiri dengan lukisan penutup bernuansa putih di atas putih, menandai akhir dari hidup sehari si Capung, teman imajinernya yang menjadi maskot bagi keseharian hidup Sari dan rumah tangganya yang sedang bermulai. Dimana setiap hari dalam hidup menjadi harus dihargai dan berarti, seperti tak akan ada esok lagi.
Setelah ini, capung yang mati di akhir hari itu mungkin akan bermetamorfosa menjadi sesuatu yang baru, menandai fase baru dalam hidup Sari. Hari yang baru di masa depan, membawa eksplorasi baru, bentuk baru, warna-warni yang baru. Yang pastinya, selalu patut ditunggu.

Farah Wardani
Jogja, Maret 2010

Tag:
Published: March 18, 2010





Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2022 viviyip artroom · webdesign by rio