Liaison

Category: Curatorial

PRIVЀ

Seni dalam kecenderungan mutakhirnya telah berkelindan erat dengan dunia di luar seni itu sendiri. Persoalan “apa itu seni” telah tergantikan dengan “apa yang bisa kita bicarakan melalui seni”. Seni bisa menemukan kembali posisinya dalam masyarakat setelah seni modern membuatnya terbang tinggi meninggalkan dunia sekitarnya. Hal ini membuka peluang seluas-luasnya men-dayagunakan seni sebagai perangkat yang terintegrasi dengan masyarakatnya, mengabdikan dirinya bagi masyarakat. Anggapan yang wajar jika melihat seni sebagai sarana pengingat, refleksi, maupun penjaga nilai. Atas kesadaran inilah kelompok kami mengikatkan diri pada kecenderungan berkarya yang membaca masyarakat (perkotaan) dengan segala tingkah polahnya.

Menjadi sebuah proses yang nyaris alami saat kami melihat kehidupan urban sebagai sesuatu yang sangat appealing, terlepas dari baik-buruknya kenyataan di dalamnya. Hingga akhirnya kami mengangkat tema seputar fake, envy, unfulfilled desire pada pameran ini tidak terlepas pada usaha kami dalam membaca persoalan-persoalan yang hadir dalam masyarakat itu sendiri.

Masyarakat urban, masyarakat kapital, atau apapun juga penamaannya dekat dengan mekanisme yang menggiring anggota di dalamnya ke dalam pusaran pemuasan hasrat tanpa henti. Mekanisme yang diatur oleh pihak-pihak dengan kekuatan modal, yang meninggalkan “pihak awam” dalam ketidaktahuan yang membuat mereka seakan-akan semua mekanisme itu suatu hal yang alami. Semua orang berlomba-lomba mengkoleksi benda-benda dengan nilai “tinggi” demi memompa apa yang kita sebut ‘prestise’, vanity, sebelum disadari betapa besarnya kemungkinan eksploitasi oleh pihak-pihak dengan kekuatan modal dan kekuatan politik terhadap diri mereka.

Melalui karya-karya yang kami pamerkan, terlacak jejak pembacaan dan pemaknaan pada fenomena sosial ini. Setiap karya memiliki muatan maupun intensitas yang beragam, namun berangkat dari sebuah pemahaman bersama pada fenomena tersebut. Karya-karya ini bisa memberikan beragam perspektif pemaknaan, terutama melalui beragamnya media di dalamnya mengingat latar belakang kelompok kami yang berasal dari berbagai jurusan, baik seni maupun desain.

Dengan demikian pula, pola pengkaryaan pun niscaya beragam. Kecenderung pembacaan, pemaknaan, maupun pemilihan media, material menjadi sangat berpijak pada pemahaman personal, khususnya pada pemilihan media yang digeluti dengan intens oleh masing-masing anggotanya. Karya-karya trimatra seperti pada karya Willy, Saraswati, Fryza, Karisma, maupun Dhana kendati sama-sama memiliki bentuk konkret 3-dimensi namun bisa terlihat berbagai perbedaan pendekatan diantaranya. Latar belakang seni patung pada Willy membawanya dalam kecenderungan pengkaryaan patung yang mengutamakan pemahaman pada bentuk dan ruang, serta teks dan konteksnya. Sedangkan latar belakang desain produk pada Saraswati, Fryza, Karisma, dan Dana membentuk pemahaman mereka pada kekuatan semantik dari sebuah objek atau produk. Stilasi bentuk berlian pada karya Saraswati, permainan nirmana melalui objek peniti pada karya Karisma, narasi pada cincin-cincin Fryza, dan permainan skala pada objek asbak Dhana memperlihatkan bagaimana faktor fungsi dan semantik pada sebuah objek atau produk dapat dieksplorasi sedemikian rupa untuk mencapai sebuah pemaknaan baru.

Begitu pula pada karya-karya dwimatra dari Charda, Satria, Theo, Wastu, Sutra, Wulan, Dimas, Arief, dan Nassya. Masing-masing memperlihatkan jejak bidang yang mereka geluti di akademi. Fotografi Charda dan cetak saring Satria memperlihatkan latar belakang mereka yaitu seni grafis. Begitu juga dengan Theo dan Wastu yang menggeluti seni lukis. Teknik-teknik eksplorasi serat dan tekstil pada karya yarn-painting Sutra dan shredding on canvas pada karya Wulan serta gambar-gambar kerja dan penggunaan material akrilik pada karya Dimas, Arief, dan Nassya juga memperlihatkan kentalnya pengaruh kriya tekstil dan desain interior.

Perkembangan seni selain membuka peluang dalam pembacaan fenomena-fenomena budaya dan masyarakat, juga membuka peluang dalam meleburnya batas-batas antara benda fungsi dan benda seni. Hal ini memperlihatkan hadirnya kebebasan sebagai tanda perubahan yang menyertai zaman ini. Walau demikian, perihal seni sebagai praktek pemaknaan yang menjadi bagian dari usaha manusia untuk terus meningkatkan derajatnya tentu sulit lepas dari pola-pola produksi dan konsumsi yang sejalan dengan pola kapitalisme mutakhir. Hal yang ironisnya dibeberapa sisi dapat mendistorsi nilai seni, yang selain mencakup nilai ekonomi semestinya juga mencakup nilai simbolik. Inilah sebuah fenomena, sebuah keadaan. Bagaimana seni, melalui caranya sendiri memperlihatkan hal itu sejernih mungkin untuk kemudian menyadarkan dan menggerakkan tentu bisa menjadi sebuah impian yang sesuai bagi sebuah pencapaian.

Bandung, 19 feb 2010

Tag:
Published: March 3, 2010





Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2022 viviyip artroom · webdesign by rio