Love Affair

Category: Curatorial

Fantasma
Pada tatapan pertama, yang tertangkap di situ adalah sebuah tata ruang: Meja makan dengan enam kursi, peralatan makan, lampu gantung, pintu dan lukisan-lukisan serupa hiasan tergantung di dinding. Sekilas menyerupai pemandangan ‘biasa’ yang kita temui di rumah-rumah kaum urban, benda-benda itu ditata untuk menciptakan suasana sebuah ruang makan. Berada di situ berlama-lama, bayangkan sensasi yang menyergap kita secara perlahan. Rasakan keganjilan-keganjilan yang datang samar-samar ketika kita amati secara lebih rinci, misalnya, sudut meja yang meleleh, peralatan makan yang terpiuh, benda-benda aneh yang tertata sebagai makanan, beberapa bagian lampu gantung yang menggumpal-gumpal tak berbentuk dan benda-benda lain berwarna putih—bahkan pada kain-kain kanvas berserat putih pun yang ada hanya sapuan-sapuan cat berwarna putih. Ya, di dalam ruangan ini, para pemirsa dikepung oleh benda-benda yang nyaris seluruhnya putih.

Kebohongan di ruang makan

Sejak awal 2009, Syagini Ratna Wulan, alias Cagi, mempersiapkan presentasi pameran ini sebagai awal dari sebuah proyek seni jangka panjang. Ia menamainya Love Affair, sebuah proyek yang dikatakannya, “…berangkat dari sesuatu yang sangat sederhana dan mendasar karena mempersoalkan hubungan emosional antar manusia yang paling manusiawi.” Love Affair akan diwujudkan dalam tiga pameran yang masing-masing mengusung episode yang berbeda. The Dining Room / White Lies adalah pameran pertama dari rangkaian proyek tersebut.

Kali ini Cagi menyajikan beragam karya dengan berbagai medium yang ditekuninya—lukisan, gambar, bordir, objek / patung, perhiasan, pakaian, sampai suara. Meskipun masing-masing elemen itu bisa dilihat sebagai karya-karya yang mandiri dan terpisah, Love Affair pt. one: The Dining Room / White Lies pada dasarnya adalah sebuah karya instalasi yang mengusung satu pernyataan utuh.

Penting digarisbawahi bagaimana kehadiran ruang makan di dalam ruang pamer bukanlah suatu instalasi yang berbicara secara ‘langsung’ kepada kita sebagai objek simbolik. Secara menyeluruh instalasi ini berhubungan dengan gagasan dan cara ungkap yang lebih kompleks. Terinspirasi oleh novel karangan penulis erotika asal Prancis, Anais Nin, A Spy in the House of Love (1954), The Dining Room / White Lies adalah karya yang menjelajahi persoalan-persoalan psikis dan interioritas manusia: cinta, kasih sayang dan hasrat. Seringkali menjadikan kisah hidupnya sendiri sebagai sumber inspirasi, Anais Nin dikenal sebagai seorang penulis perempuan dengan perjalanan hidup yang penuh intrik dan affair. Karya-karyanya banyak mengungkap kisah hubungan antar manusia yang dianggap tabu atau menyimpang, seperti biseksualisme dan incest.

A Spy in the House of Love menceritakan kisah seorang perempuan bernama Sabina—diduga merupakan personifikasi dari sosok sang pengarang sendiri—yang hidup dengan hasrat berkepanjangan untuk merayu setiap pria yang dianggapnya menarik. Sabina menjalani kehidupan cinta ganda, termasuk untuk bersembunyi dari suaminya, Alan. Kehidupan Sabina digambarkan terus-menerus berada dalam ketegangan untuk memenuhi ekpresi seksual dan hasrat akan cinta di satu sisi, dan melawan tabu dan batasan-batasan sosial di sisi yang lain.

Love Affair pt. one: The Dining Room / White Lies menggunakan ‘ruang makan’ sebagai suatu idiom. Dalam tata hidup masyarakat urban modern, ruang makan tak hanya berfungsi sebagai tempat di mana makanan disajikan dan disantap, tapi juga sebagai ruang di mana persentuhan dan interaksi sosial berlangsung—misalnya, antara seorang ibu dengan anak, atau anggota keluarga yang lain; antara seorang tuan rumah dengan tamunya; atau, antara seseorang dengan dirinya sendiri. Dalam pengertian itu pula, ruang makan tidak pernah mengikat perilaku manusia secara tetap dan pasti. Percakapan di ruang makan boleh jadi sama pentingnya dengan perdebatan dalam rapat di kantor, di dalam kamar tidur, atau di ruang sidang para wakil rakyat sekalipun. Negosiasi politik, perselingkuhan, rencana baik maupun jahat sangat mungkin muncul di ruang makan. Meskipun terdapat berbagai tabu dalam tata cara / kebiasaan makan yang berbeda, kita boleh membayangkan ruang makan Cagi sebagai sebuah latar di mana berbagai kejadian yang mungkin dan yang musykil berlangsung.

Idiom ruang makan dalam karya Cagi bisa dilihat sebagai teks terbuka tentang pendobrakan berbagai konvensi sosial yang didorong oleh sifat-sifat alamiah manusia, makhluk yang tetap punya insting-insting purba yang menghalalkan berbagai kelicikan untuk mendapatkan keuntungan.

Fantasi

Dalam kancah seni rupa, Syagini Ratna Wulan dikenal sebagai seniman muda yang mulai aktif berpameran di dalam maupun luar negeri pada awal 2000-an. Setelah lulus dari ITB sebagai sarjana seni rupa (2001), Cagi melanjutkan kuliah masternya di Goldsmith College, University of London, Inggris, dengan minat utama Cultural Studies (2005 – 2006). Selama berada di luar negeri aktifitas kesenirupaannya memang menurun, tapi keinginannya untuk terus berkarya sebagai seniman tak pernah surut.

Setelah lebih dari sepuluh tahun lamanya—sejak mengenalnya sebagai seorang calon mahasiswa seni rupa yang jago menggambar—saya merasa cukup memahami strategi artistik yang Cagi terapkan dalam karya-karyanya. Karya-karya Cagi mewakili temperamen, gagasan dan caranya berpikirnya yang melompat-lompat, bahkan cenderung liar (karakter itu seringkali saya juga temukan pada gaya bicaranya yang ‘tak stabil’: meledak-ledak di satu waktu, lantas berubah lemah-lembut di waktu yang lain). Kreatifitasnya yang bercabang-cabang menyebabkan ia tak pernah puas dengan satu jenis atau bentuk ekspresi saja. Sejak kembali dari London, ia aktif di dunia fesyen dan musik anak muda di Bandung dan Jakarta. Selain merancang furnitur dan interior, ia dikenal sebagai fashion stylist untuk beberapa kelompok musik independen di Bandung.

Sejak periode awal kekaryaannya, Cagi dikenal dengan pemilihan idiom-idiom visualnya yang seringkali non-linier. Kegemarannya pada narasi-narasi absurd dan fantastik dalam film dan musik, dan ketertarikan intelektualnya pada kecenderungan regresif kaum Surrealis banyak memberikan pengaruh penting. Karya-karya Cagi pada dasarnya selalu merupakan reaksi terhadap kenyataan sehari-hari yang banal. Namun, berbeda dengan pendekatan realisme yang cenderung menghadirkan kembali kenyataan, karya-karya Cagi selalu idiosinkratik, enigmatik, sekaligus ‘khas feminin’. Ia banyak menjelajahi persoalan fantasi, ketidaksadaran manusia melalui pendekatan tafsir teks—seperti terlihat dalam instalasinya The Ten Commandments (2001) yang berwujud sabun mandi dengan cetakan tulisan sepuluh perintah Allah; atau pada Delirium (2002) yang memajang benda-benda keseharian dalam bejana-bejana kaca berisi cairan kimia untuk mempersoalkan halusinasi masyarakat konsumer.

Secara menyeluruh, instalasi The Dining Room / White Lies menggeser metafor-metafor stereotip tentang cinta ke dalam konotasinya yang lebih liar yang subversif.  Ketika menggarap proyek ini, Cagi menemukan relevansi yang menarik antara persoalan hasrat purbawi manusia dengan karakter Sabina dalam buku Anais Nin. Bagi Cagi, Sabina adalah karakter yang menggambarkan fantasi dan hasrat alamiah seorang perempuan, yang ternyata harus diwujudkan dengan cara melakukan kebohongan dan pengkhianatan.

Namun pendekatan yang ditempuh Cagi dalam menampilkan persoalan kebohongan tergolong unik. Dalam ruang makan itu ia menyajikan sejumlah objek, lukisan dan bordir yang didominasi oleh bentuk-bentuk tengkorak dan tulang belulang manusia dan binatang. Dalam pemahaman umum, bentuk-bentuk itu memang identik dengan persoalan ‘kematian’. Namun Cagi menggambarkan tulang belulang itu sebagai representasi dari ‘rahasia terbesar’ dalam hidup seseorang. “Kebohongan, perselingkuhan dan pengkhianatan itu seperti tulang belulang. Ia mungkin tak terlihat karena terpendam di bawah kulit sepanjang kita hidup. Tapi seperti juga tulang-belulang, rahasia-rahasia yang kita sembunyikan dari orang lain bisa jadi menunjukkan siapa sebenarnya jati diri kita,” ujarnya suatu ketika. Rahasia dan  tabu adalah kenyataan-kenyataan yang selama ini tersembunyi dan ‘terepresi’ oleh norma sosial.

Proyek Love Affair yang pertama ini menegaskan sosok Cagi sebagai seniman muda Indonesia yang mengusung pemikiran dan cara ungkap khas pasca-sembilanpuluhan. Ia tak tertarik mengomentari persoalan-persoalan sosial-politik yang aktual dan ‘sempit’ dengan cara-cara yang banal. Karya-karya Cagi tidak menganut suatu faham simbolisme tertentu. Alih-alih, secara bebas Cagi menggunakan fantasi sebagai instrumen untuk melepaskan stereotip persepsi sosial yang sering menghambat keinginan kita untuk berpikir dan bertindak tak logis / irasional. Karya-karyanya membiarkan para pemirsanya terlebih dahulu terombang-ambing dalam disorientasi tanda-tanda, untuk akhirnya menemukan makna dengan cara-cara yang ilusif dan fantasmagoris.
Agung Hujatnikajennong

Tag:
Published: December 25, 2009





Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2019 viviyip artroom · webdesign by rio