Club Obsolom

Category: Curatorial

Oleh Rifky Effendy

Yudi Yudoyoko masih memperlihatkan keliaran imajinasi dan jelajah artistik yang intensif sejak ia masih tinggal di Bandung. Pertama kali mengenal karya-karyanya ketika saya masih menjadi mahasiswa tahun kedua. Cukup tak lazim pada saat itu di FSRD – ITB, karya-karyanya tak mencerminkan bagaimana ajaran formalisme begitu kuat sebagai pedoman berkarya murid-muridnya. Tapi seolah tak berlaku bagi Yudi, bahkan tak mencerminkannya. Malah karya-karyanya seperti memberontak pada apa yang diajarkan, dengan menyuguhkan karya figuratif dengan penerapan warna begitu mencolok. Penyajian yang unik menggunakan lempengan kayu yang dipotong dan material lain diatasnya. Singkat kata, menyaksikannya memberi daya tarik visual yang langsung ‘menendang’ mata.

Yudi, bukan hanya dikenal sebagai mahasiswa yang mewakili Indonesia di arena mahasiswa seni ASEAN tahun 1988, tapi juga pernah menjuarai beberapa kompetisi rancang fahion dan perhiasan oleh beberapa lembaga media Nasional. Beberapa kali membuat proyek performance, redaktur artistik grafis majalah dan musik eksperimental untuk karya patung seniman senior (alm.) G. Sidharta dan lainnya. Alih-alih penjelajahan artistik Yudi begitu beragam dan luas dalam menggunakan bahasa visual. Sejak awal dekade 1990-an, saya dan beberapa rekan angkatan diatas saya, tiba-tiba sering terlibat dengan proyek-proyeknya yang menantang dan tak lazim. Seperti menggunakan ruang publik sebagai pelebaran ruang-ruang berproses dan berkarya seni, atau sebagai ruang alternatif dengan strategi baru.

Proyek yang pernah melibatkan saya antara lain proyek “Teka Teki Seni Aral”, yang berlangsung dua kali, tahun 1992 membuat performance dan memasang instalasi diatap gedung Pasar Baru – Bandung, dan kemudian tahun 1993, menempelkan gambar-gambar dibeberapa halte bus di beberapa titik di kota yang sama. Kemudian tahun 1994, ketika mengumpulkan beberapa orang membuat proyek fashion untuk sebuah majalah anak muda terkemuka di Jakarta. Tahun 1995, Yudi mengajak saya berpameran bersama di CCF Bandung, dengan tajuk Original Sin, dengan menghadirkan instalasi gambar – gambar potongan dari tubuh manusia dengan angka-angka serta tulisan-tulisan maupun ikon-ikon lain diatas lempengan karton sebagai pengganti kanvas. Karya ini ia menghadirkan persoalan identitas manusia modern sesungguhnya.

Terakhir saya memamerkan karya Yudi ketika masih bekerja disebuah galeri di Bandung, dalam proyek pameran tunggalnya bertajuk “Recognition”. Sebuah proyek menarik dengan menampilkan rangkaian instalasi beragam objek yang minimalis dan materi yang sederhana serta diluar dugaan. Membuat kejutan bagi siapa saja yang pernah mengetahui perilaku karya-karya Yudi sebelumnya.

Yudi selalu memandang dan mengetengahkan pokok soal nilai – nilai hakiki dari sisi yang kelam atau menampilkan grotesk manusia. Alih-alih karya-karyanya berupaya untuk menelanjangi siapa kita sebenarnya. Dibungkus melalui karya dengan corak yang menghibur, penuh humor, bahkan beberapa hal nyaris sarkasme dan vulgar. Dengan kepekaan artistik yang selalu dikerjakan secara apik dan menghadirkan aspek kejutan, ia tak pernah habis untuk membawa kita pada batas –batas kegilaan perilaku manusia. Yudi dengan kepekaan artistiknya juga sering terlibat dan berkecimpung dalam dunia fashion dan musik, selain pameran-pameran serta proyek yang cukup menarik dan dengan pendekatan berbeda dijamannya.

Club Obsolom : Dunia Jungkir Balik

Pada tahun 2003, ia meninggalkan tanah air untuk kemudian menetap dan berkarya di negara dengan latar budaya yang sangat berbeda. Di Argentina dan Uruguay justru seolah Yudi menemukan dunia imajinasinya dan meneruskan pergumulan gagasan serta potensinya sebagai perupa kontemporer Indonesia generasi pertama , hingga hanya perlu beberapa waktu saja ia diterima sebagai bagian medan sosial seni disana. Pameran CLUB OBSOLOM merupakan pameran tunggal pertama sejak ia tinggal di Amerika Selatan. Club Obsolom sendiri, menurut Yudi adalah gambaran dimana semua yang berbau fetish dan dianggap buruk menjadi normal. Disana mewakili cinta, nafsu, kesenangan, kekerasan, ketak-beraturan atau kekacauan, dan anti-kemunafikan atau sebagai dunia yang berwatak karnivalistik, seperti yang diistilahkan kritikus sastra Rusia; Mikhail Bakhtin (1895 – 1975). Dimana segala nilai yang dianggap paling bertentangan dan terkotak-kotak melebur dalam satu peristiwa.

Dibalik grotesk manusia yang berperangai aneh dan diluar etika yang dianggap lazim, yang kadang dikombinasi dengan berbagai elemen; seperti ikon-ikon keagamaan, ikon dari budaya masyarakat populer, dan lainnya.Yudi seolah selalu ingin menyodorkan suatu persoalan kehidupan didunia ini dengan melihat dari kaca – mata terbalik; dari kekacauan dan membebaskan diri dari segala etika yang tertib. Membuat batas-batas kebaikan dan keburukan maupun hal-hal yang dikotomis, melebur menyatu menjadi humor, androgini dan penuh keambivalenan serta keironisan. Tapi sekaligus menggugah dan menganggu kemapanan pada apa yang diyakini umum.Pendekatan ini tidak hanya sebatas visualitas, tapi ada suatu pengamatan, pendalaman serta penelusuran terhadap persoalan. Disinilah kita bisa merasakan kepekaan seorang seniman terhadap apa yang tengah terjadi dibalik kehidupan yang dianggap lumrah. Ia bisa mengupas lapisan – lapisannya dan membuatnya mudah dicerna melalui imajinasi liar dan sindiran maupun humor – humornya.

Dari karya-karya drawing diatas kertas dan kanvasnya, kita disuguhkan gambar-gambar dan teks-teks yang provokatif namun menghibur, Yudi bereaksi pada persoalan media massa yang begitu agresif membombardir kehidupan kita dengan beragam nilai, produk fashion, gossip, dan kehidupan personal para pesohor. Kepekaannya terhadap pengalaman estetik, menjadikan apa yang dikerjakannya selalu berhasil secara artistik, dan selalu melibatkan penjelajahan materi yang ekstensif. Contohnya karya walpaper atau lapisan pembungkus dinding yang disajikan dalam pameran ini menjadi salah satu karya dengan idiom cukup unik dan mungkin saja belum pernah dilakukan seniman di Indonesia, begitupula dengan lapisan kursi berpola. Garapannya dalam mengolah rinci dengan beragam fragmen, membuat keseluruhan karya tersebut menjadi kaya simbol dan makna.

Kita bisa selalu akan mendapati karya-karya Yudi yang banyak terpengaruh dari beragam hal, selain karya-karya seni rupa barat maupun Amerika latin, juga karya perancang mode, fotografi, film dan musik. Dengan racikannya sendiri, secara spontan dan tajam.

Ia pernah menyatakan pada saya tahun 2007 lalu tentang posisinya di Amerika Selatan:

“ Surely I am being influenced by my surroundings, by nature and the great landscapes here. In connection with the local art milieu, you know, I prefer to walk through my own different path, which I consider an adventure. I was tamed by Indonesian culture. The combination of our modern life with my anthropological background has molded me in a unique way. I can enter the craziness of today’s life, but on the other hand I guess I am also able to meditate as only Eastern people can. There might be some changes, in the sense that I have become more dedicated and better organized”.

Tag:
Published: October 13, 2009





Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2022 viviyip artroom · webdesign by rio