Ini Baru Ini: Gelagat dari Arus Bawah

Category: Curatorial

Oleh: Aminudin TH Siregar

Sejumlah Gejala

Seniman-seniman di zaman sekarang lebih menyukai tema-tema ringan, yang tak segan-segan mereka cerap dari pengalaman sehari-hari. Apakah gejala ini bisa kita tengarai sebagai pudarnya minat pada narasi besar seraya sekaligus berpaling ke narasi kecil – yang pada fase-fase historis tertentu pernah disepelekan, dijauhi dan dimarjinalkan karena dianggap tidak mengandung permasalahannya yang mendesak bagi kehidupan? Apakah bawah sadar dari gejala ini bisa kita baca sebagai penentangan terhadap elitisme seni rupa?

Situasi yang demikian sesungguhnya tidak lagi baru. Para pelaku Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) telah memulai pembongkaran terhadap elitisme ini. Pameran terakhir mereka Pasar Raya Dunia Fantasi (1987) tidak semata merefleksikan ‘kenakalan anak muda’, tetapi memanifestasikan perluasan sejumlah hal di dalam dunia seni rupa, terutama pada pokok estetika. Kalau kita tarik garis lurus dari pameran itu sampai ke dasawarsa sekarang, tampak benang merah ketertarikan di kalangan seniman. Plesetan ala GSRB toh masih dilakoni Bambang Toko, Eko Nugroho, dan lain sebagainya. Secara estetik, pengemasan genre seni pop dan penganut neo dada secara bersamaan muncul di dalam tampilan karya mereka. Kalau begitu, mestinya ada kesamaan latar sosial yang mendongkrak lahirnya kecenderungan karya-karya seperti itu. Diantaranya mungkin bisa kita sebut di sini: produksi-reproduksi citraan budaya konsumerisme yang berada di dalam ranah kebudayaan pop.

Dari perspektif internal seniman, penciptaan karya terjadi atas dasar ‘sesuka suasana hati mereka’, ‘yang penting cool’ dan adakalanya sangat bergantung pada komunitas atau ‘dengan siapa dia bergaul’, menunjukkan tengah terjadinya krisis identitas dikalangan muda. Kita harus maknai konotasi krisis di sana secara positif, sebab dia berurusan dengan semangat ekploratif dan ekperimentatif. Di antara sesuatu yang serius dan ringan, batasannya kini lebur. Yang tadinya hanya cocok untuk dijadikan ilustrasi majalah pop atau aplikasi poster, kini menghias kanvas-kanvas seniman. Yang tadinya sangat profan, menjadi adiluhung. Yang tadinya dipandang murahan, menjadi mahalan. Yang mulanya main-main, kini menjadi serius. Yang tadinya berlokasi di jalanan dan menyerang kemapanan galeri, kini justru menempel di tembok galeri-galeri bergengsi.

Bersamaan dengan itu kita dapat amati, seni rupa tengah mengalami pemekaran, baik pada corak maupun tema. Hal ini terjadi karena teknologi komunikasi menyebabkan seniman dihadapkan dengan keleluasaan untuk memilih. Di situ, ide menciptakan karya seni bisa datang secara eklektik dari film, MTV, putus cinta, terancam drop-out dari kampus hingga renungan eksistensialis yang serius. Corak dalam seni lukis bisa secara serentak distimuli dari kartun, manga, majalah pop, tanda-tanda di dalam dunia maya hingga buku-buku seni rupa dan lain sebagainya.

Apa yang sesungguhnya tengah terjadi?

Yang terjadi saat ini adalah bahwa penciptaan seni bukan lagi bertolak dari pengalaman estetis, melainkan lebih merupakan hasil-hasil dari reproduksi serta manipulasi citraan. Akibat yang cukup serius: dunia seni rupa mengalami disensus nilai-nilai. Kita akhirnya mengalami kesulitan mengaitkan masalah dari satu peristiwa seni rupa ke peristiwa lainnya menjadi suatu urut-urutan yang koheren. Segala sesuatu kini tidak berkelanjutan dan tidak berhubungan.

Di luar itu, kini kita sedang bertemu suatu fase yang dulu ‘diperjuangkan dan dibayangkan’ oleh pelaku GSRB, yaitu leburnya batas-batas hirarki di dalam gerak kebudayaan kita. Atau di dalam keniscayaan kritikus Sanento Yuliman: dari pluralisme estetik ke estetik pluralis. Seni rupa bawah mendesak ke permukaan dan lebur dengan seni rupa atas, bertransformasi ke dalam kepingan-kepingan kecil. Di dalam kepingan itu, kita kehilangan rujukan. Sanento Yuliman saat itu menyebutnya sebagai seni rupa sehari-hari. Dalihnya: macam-macam masyarakat, macam-macam kebudayaan dan masuk akal apabila tercipta pula macam-macam seni rupa.

Lobrow yang Memikat

Disensus nilai dalam seni rupa dewasa ini tentu saja perlu penamaan. Untuk sementara kita pinjam istilah lowbrow untuk menampung gejala kekaryan yang semacam itu. Gejala ini tidak saja menjangkiti Indonesia, di negara-negara lain, genre yang sering diidentikkan dengan selera vulgar dan anti intelektual ini juga menjadi trend baru di kalangan seniman.

Ya, mungkin lowbrow atau acap disebut pula dengan surealisme pop inilah yang tampaknya diposisikan pada bibir gelombang perkembangan seni rupa kita. Gerakan seni yang pemekarannya terjadi di Los Angeles, California pada awal 1990an dan kadangkala dikaitkan dengan gerakan Stuckism di Inggris ini memang memiliki tawaran unik. Selain menyuguhkan citraan yang berbeda dengan lazimnya estetika dalam ‘budaya tinggi’, genre lowbrow yang merefleksikan ‘budaya jalanan’ itu seolah memberikan jawaban ketika penciptaan artistik tanah air mengalami jalan buntu dan terutama sekali ketika terjadi krisis identitas di kalangan muda. Semangat anti kemapanan yang meluap-luap terhadap dominasi estetik sebelumnya juga menjadi basis titik tolak karya-karya tersebut.

Gejala lowbrow di Indonesia dimulai dari bocornya citraan yang komikal ke dalam karya-karya seni lukis. Dari situ, kita bisa katakan mulai kelompok Taring Padi, Apotik Komik, Daging Tumbuh di Jogjakarta serta sejumlah komunitas anak muda lainnya di Bandung dan kota-kota besar lain, serta penerbitan majalah-majalah underground dan sejenisnya cukup mendongkrak lahirnya genre tersebut, tentu dengan pelbagai karakteristik lokalnya yang khas, yang ditopang oleh kebudayaan pop Indonesia. Tidak cuma itu, nafas formalisme seni tradisi yang flat turut memperkaya diksi seniman kita, Pada batas-batas tertentu kita temukan benih gejala ini secara individu pada karya-karya Heri Dono, Agung Kurniawan, Eddi Hara, Hanura Hosea, Popok Triwahyudi, dan banyak lagi.

Konstruksi ‘Aku’

Dari 36 seniman yang terlibat di dalam pameran Ini Baru Ini, karya semisal Andi Cakra Abbas, W Alimin SW, Badru Zaman, Baskoro Latu, Lia Mareza, Bonita Margaret, Eunice Nuh, G Prima Puspitasari, Hendra ‘Hehe’ Harsono, Irfan Winoto Dechan, Octo Chan, Lydiawati, Kania, Tere/Theresia A Sitompul, Timotius Anggawan, Restu, Riduan serta Radi Arwinda setidaknya berada dalam semangat lowbrow itu. Karya-karya mereka mengakar pada aktualitas kebudayaan pop kita. Dan perlu dicatat bahwa mereka tidak berkarya secara deduktif, artinya mereka membebaskan diri dari kepentingan yang ada di luar dirinya, yang kita sebut narasi besar itu.

Di dalam seni video, kita temukan Febie Babyrose dan Yusuf Ismail. Memang, tidak seluruh karya-karya yang kita nikmati di dalam pameran ini mengusung lowbrow. Lukisan dari Abdul Fattah, Donny Paul, Iwan Hasto, Hikmah, Mulyo Gunarso, Monika Ary Kartika, Patricia, Dita Gumira, Irawan Pras serta I Wayan Kun Adnyana misalnya. Selebihnya kita temukan karya-karya yang menyuguhkan kuasi estetik, yaitu berupa kombinasi dari pelbagai genre seni rupa.

Hanafi tampil dengan karya yang berbeda dari kelaziman reputasinya selama ini. Dia menampilkan potret dirinya sebagai pose yang terbuka untuk ditafsir. Saya menduga hal ini terkait dengan revitalisasi kekaryaan Hanafi yang mencoba menginterupsi situasi aktual yang dihadapi olehnya. Potret diri disitu Sejauh pengamatan, menyoal pembedahan satu sisi modernitas (modernity) dari perspektif: cara bertanya terhadap suatu fenomena dan cara bertanya individu terhadap dirinya sendiri (self). Untuk memudahkan, perbedaan cara bertanya tersebut saya kategorikan sebagai: kesadaran sosiologis-historis dan kesadaran filosofis-etis. Tampilan wajah Hanafi yang frontal mencakup ihwal cara bertanya tersebut. Ada kesan Hanafi menghindari perangkap cara berfikir periodik dan mengutamakan suatu keterputusan (discontinuity) dengan masa lalunya.

Dari refleksi karya Hanafi ini, kita bisa menjabarkan kecenderungan umum di seniman lainnya dalam pameran ini. Yakni bagaimana seorang seniman berani ‘memproblematisasikan” dirinya dengan situasi terkini. Sekali lagi, ini akan terkait dengan krisis identitas yang saya tulis di atas dimana ihwal diri (self) harus diciptakan dengan cara terus mempertanyakan apakah hari ini? apakah situasi terkini dari kesadaran sang-self tersebut?. Sebagai seniman, tentunya, kedasaran untuk mempertanyakan terus apakah seni itu? Dalam makna yang positif – dan memang kita harus menilainya dalam koridor itu – krisis identitas memuat simtom sizofrenia (pribadi kembar) yang banyak bermukim di dalam individu seniman.

Seniman pada prinsipnya mengolah dunia batin untuk mengonstruksi keutuhan sang “aku”. Yaitu “aku” yang menempuh resiko hidup, “aku’ yang menghadapi konflik-konflik antara diri dengan dunia sekitarnya. Itulah “aku” yang modern, yang merupakan tindakan tajam melihat realitas, berani melakukan konfrontasi pada praktik kebebasan seraya sekaligus dijadikan penghormatan dan pelanggaran terhadap realitas itu sendiri.

Pameran bertajuk Ini Baru Ini ini mencakup pula seniman Asia Tenggara, sebutlah Eric Chan (Singapura), Ruel Cassi (Filiipina), Bembol de la Cruz (Filipina) serta Wong Perng Fey dan Liew Choong Ching (Malaysia). Karya mereka tampil dengan kematangan tertentu yang dengan segera bisa kita rasakan perbedaannya dengan seniman lokal. Perbedaan itu terletak pada gagasan yang berujung pada tematik yang khas. Selain itu, secara teknik kita jumpai tingkat kematangan yang berbeda.

Epilog

Dilihat dari kuantitasnya, pameran ini terbilang berskala besar. Ini Baru Ini mengingatkan kita pada Pasar Raya Dunia Fantasi tahun 1987. Perbedaannya, kalau yang dulu diiringi kontroversi, sementara dewasa ini karya-karya, hemat saya, akan menuai apresiasi. Sebab, kini kita memasuki era seni rupa yang kehilangan tegangan itu. Satu-satunya tegangan yang tersisa sekaligus tersedia hanyalah tegangan internal setiap seniman, sejauh apa dia mampu bertahan hidup di zaman sekarang, bergulat di dalam pemekaran ke corak baru dan tema baru.

Dan, sebagaimana Sanento Yuliman (1987) menengahi kekeliruan Trisno Sumardjo pada tahun 1949 yang mengatakan bahwa masalah kita adalah mengadakan tradisi baru dan bukan membuat renaisans karena dinilai olehnya kita tak punya tradisi, maka Sanento boleh jadi benar: premis Trisno itu jangan-jangan memang kehilangan relevansinya. Seniman sekarang tentunya mengantongi dua bekal: bekal budaya ketika dia hidup dan bekal seni tradisi yang kaya potensi untuk didaur ulang. Segalanya tinggal dipilih. Zaman sekarang adalah surga bagi penciptaan karya seni. Namun, bagi mereka yang tidak peka, zaman sekarang adalah neraka.

English:

This is It: Symptoms from Below

Several Symptoms

Artists of today prefer lightweight themes, which they unhesitatingly take from their daily lives. Can we read the symptom as the fading away of interest in grand narratives and the turn to petite narratives—which in certain historical phases had been looked down, shunned, and marginalized, because it was thought that they did not carry urgent matters? Can we say that underlying this symptom has been the subconscious effort to challenge the elitism in art?

Such a situation is in fact not new. The artists of the New Art Movement had started to break down such elitism. Their last exhibition, “Pasar Raya Dunia Fantasi” (1987), did not merely reflect “the naughtiness of youth,” but was also the manifestation of the expansion of several matters in art, especially in terms of aesthetics. If we draw a line from that exhibition to the situation today, an underlying theme would transpire, which had apparently been of interest among the artists. Playfulness à la the New Art Movement is still apparent in the works by such artists as Bambang Toko and Eko Nugroho. Aesthetically, pop art packaging and traces of neo-Dadas are apparent in their works. In that case, there must have been similar social situations that had triggered the birth of such works. One of such situations might be the production-reproduction of images of the culture of consumerism that exist within the realm of pop culture.

From the internal perspective of the artist, the process of creation of a work of art occurs on the basis of “whatever the mood dictates,” “cool is crucial,” and it sometimes depends very much on the community or the peer, evidence of a crisis of identity among the youth. We must take “crisis” there as something positive, as it deals with the spirit of exploration and experiments. The boundary between the serious and the lightweight blurs. The ones that previously were appropriate only for pop magazine or poster illustrations are now found in the artists’ canvasses. The ones that were profane are now sacred. The ones that were lowly are now luxury. The ones that were mere plays have become serious. The ones that previously were found on the street and attacked the established position of galleries are now hung on the walls of prestigious galleries.

At the same time it is apparent that art is undergoing an expansion, whether in terms of styles or pattern. This is due to the communication technology that presents to the artists an array of choices. Here, ideas for art works can come eclectically from movies, MTV, heart breaks, university’s drop-out warnings, to profound existential meditations. Painting styles can be simultaneously stimulated by cartoons, mangas, pop magazines, signs from the virtual world, up to art books and whatnots.

What is actually happening?

What happens is that today art creation no longer departs from the aesthetic experience, but instead is the result of image reproduction and manipulation. A rather serious consequence of it has been this: The world of art faces a dissensus of values. It is eventually difficult for us to relate the problems of one art event and the next in a coherent sequence. Every thing is now discontinuous and unrelated.

Furthermore, we are now experiencing a phase that the proponents of the New Art Movement had fought for: the blurring of hierarchy in the movements of our culture. Or as per the certitude of the late critic Sanento Yuliman: from the aesthetic pluralism to the pluralistic aesthetics. The low art is pushing upward and merges with the high art, transformed into tiny fragments. Amid the fragments, we lose our reference. Sanento Yuliman calls it the art of the daily lives. The reason: a myriad of societies, a myriad of cultures, and so it is only logical that there will be a myriad kinds of art.

The Enchanting Lowbrow

We certainly need to give a name to the dissensus in the world of art today. We will temporarily borrow the term of ‘lowbrow’ to contain such symptoms of art, which are rife not only in Indonesia. In other countries, the genre that is often identified with a vulgar and anti-intellectual taste has also become a new trend among the artists.

Yes, probably it is the ‘lowbrow’ or what is often called ‘pop surrealism’ that has been placed at the cutting edge of our art development. The art movement that has grown in Los Angeles, California, in the early nineties and is often linked with the Stuckism movement in the UK indeed presents a unique opportunity for the artists. Besides presenting images that are distinct from the common aesthetics of the ‘high culture,’ the lowbrow genre that reflects the “street culture” also seems to provide an answer to the situation in which the artistic creation in Indonesia faces a dead end and especially when there is a crisis of identity among the youth. The brimming anti-establishment spirit against the previous aesthetic dominance has also been the basis for such “lowbrow” works.

The symptom of lowbrow art in Indonesia began with the leaking of comical images into painting. We can say that such groups as Taring Padi (literally: Fanged Husk), Apotik Komik (Comics Apothecary), Daging Tumbuh (literally: Tumors) in Yogyakarta, as well as a number of youth communities in Bandung and other Indonesian cities, and the publication of underground zines have all supported the birth of this genre—with the various attending local characters and buttressed by the Indonesian pop culture. Furthermore, the atmosphere of formalism of the flat traditional art has also enriched the artistic diction of our artists. To a certain extent, we discover the seeds of this genre in the works by such artists as Heri Dono, Agung Kurniawan, Eddi Hara, Hanura Hosea, Popok Triwahyudi, and many more.

From the works of the 36 artists involved in this exhibition of Ini Baru Ini (This is It), within the domain of the lowbrow spirit are works by Andi Cakra Abbas, W Alimin SW, Badru Zaman, Baskoro Latu, Lia Mareza, Bonita Margaret, Eunice Nuh, G Prima Puspitasari, Hendra ‘Hehe’ Harsono, Irfan Winoto Dechan, Octo Chan, Lydiawati, Kania, Tere/Theresia A Sitompul, Timotius Anggawan, Restu, Riduan, and Radi Arwinda. These works are rooted in the actuality of our pop culture. It is worth noting that those artists do not work deductively, which means that they free themselves from interests that are external to them, which we call the grand narratives.

In terms of video art, we find works by Febie Babyrose and Yusuf Ismail. Indeed, not all of the works we enjoy in this exhibition are proponent of the lowbrow genre. There are, for example, paintings by Abdul Fattah, Donny Paul, Iwan Hasto, Hikmah, Mulyo Gunarso, Monika Ary Kartika, Patricia, Dita Gumira, Irawan Pras, and I Wayan Kun Adnyana. Then we also find works that present traces of the quasi-aesthetics, in the form of a combination of various art genres.

Hanafi is present with a work that departs from his general tendency so far. He presents a self-portrait with a pose that can be openly interpreted. I presume this is related with Hanafi’s creative revitalization, in which he tries to interrupt the actual situation that he is facing. The self portrait, I think, is about dissecting an aspect of modernity from the perspective of: the ways of questioning about a certain phenomenon, and the ways that an individual questions the self. To say it simply, I categorize those different ways of questioning as: the sociological-historical awareness, and the philosophical-ethical awareness. The frontal portrait, in which Hanafi faces the viewer directly, involves the issue of ‘the ways of questioning.’ There is a sense that Hanafi is trying to avoid the trappings of periodical way of thinking and focuses on a discontinuity with his past.

From the reflections regarding Hanafi’s work, we can then delineate a general tendency among other artists in this exhibition; i.e. how an artist dares to make an issue of him or herself vis-à-vis the current situation. Again, this pertains to the “crisis of identity” which I have mentioned, in which the issue of the self must be created by keep on questioning about what is today? What is the latest situation of the awareness of the self? As an artist, naturally, this is about the awareness to keep on asking what is art? The crisis of identity contains the symptom of schizophrenia in a positive sense—and indeed we must view it within a positive light—which many artists have within them.

The artists basically explore their inner realm to construct the wholeness of the ‘I’—i.e. the ‘I’ that faces the risks of life, the ‘I’ that encounters the conflicts between the self and the world. That is the modern ‘I,’ that entails a keen view on reality, the audacity of confronting practices of freedom, all of which simultaneously serve as a respect and violation regarding the reality itself.

The exhibition entitled “Ini Baru Ini” also includes artists from the Southeast Asian region; for example Eric Chan (Singapore), Ruel Cassi and Bembol de la Cruz (The Philippines), as well as Wong Perng Fey and Liew Choong Ching (Malaysia). Their works are present with a certain maturity, and the difference between these works and those by the local artists can be sensed immediately. This difference lies in the ideas that have originated from characteristic themes. Besides, in terms of their techniques, a different level of maturity is also apparent.

Epilogue

In terms of the number of the works involved, one can say that this is quite a large-scale exhibition. “Ini Baru Ini” might remind us of the exhibition of “Pasar Raya Dunia Fantasi” in 1987. The difference is that the 1987 exhibition was followed by controversies, while the one held today, I think, will be well appreciated. This is because we are now entering an era of art in which the tensions have been dissolved. The only tension that still exists is the internal tension within each artist: how far can he or she survive in the contemporary era, struggling in the expansion toward new styles and themes.

Sanento Yuliman (1987) might be right when he responds to Trisno Sumardjo’s mistake in 1949, which said that our problem is to forge a new tradition instead of to create a renaissance as according to him we had no traditions. Trisno’s assertion has perhaps lost its relevance. The artists of today are certainly armed with two sets of provision: that of the culture of the era in which they live, and that of the rich tradition which might be recycled. Every thing is available for their choosing. The current era is heaven for art creation. For those who are not sensitive, however, it is hell.






Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2020 viviyip artroom · webdesign by rio