De-Vectorized Art History

Category: Curatorial

Oleh Rifky Effendy

“Due to its faculties, with this tool people can create fantasies that their imaginations fail to envision.”
(Sanento Yuliman, in the article “Seni Komputer, Hidup Komputer” [Computer Art, Computer Life], 1986)

Dalam era digital saat ini, dunia imaji menjadi sesuatu yang problematis tapi sekaligus merangsang daya artistik para seniman. Dunia digital punya sifat imateri yang lebih lentur, sehingga dengan mudah sebuah gambar diubah-ubah, dirombak; bentuk, warna, dan ukurannya dengan memanfaatkan berbagai program perangkat lunak. “Kemudahan-kemudahan” dalam merekayasa sebuah gambar bukan hanya berujung pada nilai artistik saja, tapi sering berkait dengan isu moral dan sosial. Maka pada dasarnya para perupa merekayasa sebuah imaji untuk menciptakan nilai-nilai baru pada dunianya sendiri, dunia pictorial, walaupun tak dipungkiri bahwa hal ini pada akhirnya bisa terkait dengan persoalan estetika atau persoalan cara pandang masyarakatnya.

Karya-karya lukisan Julius Setiawan mungkin menjadi contoh bagaimana jelajah dunia digital tengah diminati para perupa muda saat ini. Setidaknya—menurut kurator Asmudjo J. Irianto—sebagai suatu metoda baru menghasilkan gagasan awal atau proto-gagasan untuk kemudian dijadikan sebuah lukisan. Hampir seluruh seri lukisan Julius menampilkan potret kehidupan para seniman terkenal abad ke-20, dengan warna yang sangat cerah dan kuat, menyerang mata: Potret Andy Warhol dengan Jean Basquiat berdiri di depan lukisan potret mereka berdua bersarung tinju; atau wajah Salvador Dali muda dengan lelehan jam yang merepresentasikan dunia antara yang riil dan tak-riil; surealisme; atau maestro kubisme Pablo Picasso tua yang sedang duduk melukis mahakaryanya Les Demoiselles d’Avignon.

Julius rupanya sedang tertarik pada foto-foto ikonik sejarah seni modern (barat) abad ke-20, sebagai subjek yang kemudian menjadi bahan mentah untuk dijadikan karya. Setelah mencari foto-foto itu dari dunia maya internet dengan mesin pencari, ia kemudian mengunduh gambar-gambar tersebut, lalu diolah dengan bantuan perangkat lunak Corel Draw dengan menyederhanakannya secara otomatis ke dalam format grafik vektor.1 Sehingga mengubah konstruksi gambar menjadi garis-garis dan titik yang mengikuti garis besar foto tersebut. Konstruksi gambar tersebut bisa mudah diubah posisi, bentuk, dan warnanya mengikuti kemauan sang kreator. Pengalihan ke dalam format vektor membuat gambar tersebut menjadi konstruksi tanda yang super-fleksibel.

Secara instan gambar tersebut kemudian bisa diberi warna-warna yang tersedia dalam program, digabung dan dikombinasi secara sandwich dengan pola gambar yang berbeda. Maka apa yang terlihat dari ‘sketsa-sketsa’ tersebut mungkin saja tidak lagi merepresentasikan gambar muasalnya. Di sinilah Julius berperan penting dalam merekonstruksi dan mendekonstruksi sebuah citraan. Dalam kaitan ini potret-potret tersebut telah dibongkar ulang dengan memanfaatkan teknologi imaji vektor, menjadi tanda-tanda murni yang menjadi bahan mentah untuk mengonstruksi sebuah imaji lukisan. Logika digital saat ini menjadi pertimbangan baru bagi metode berkarya para perupa, karena melukis itu sendiri akhirnya menjadi suatu aktivitas strategi visualisasi. Dengan memindahkan gambar hasil olahan komputer grafik ke bidang kanvas dengan cat akrilik atau minyak, melukis tidak lagi berfungsi sebagai wilayah untuk mencari jawaban tentang apa itu melukis.

Sosok dan imaji Salvador Dali, Pablo Picasso, Andy Warhol, maupun Jean Basquiat yang ikonik telah memberikan inspirasi bagi dunia seni rupa modern lewat pemikiran dan karya-karyanya. Tapi lebih daripada itu, bagi sebagian besar perupa mereka bagaikan tokoh-tokoh dan legenda dongeng yang meninabobokan. Kejeniusan, kenyentrikan, dan kontroversi menjadi perayaan yang memenuhi catatan sejarah mereka, sebagai pencapaian estetika yang kemudian diuar-uarkan dalam sejarah peradaban masyarakat Barat. Perayaan itu terus bergema secara luas hingga ke bangku-bangku kuliah di daratan yang jauh dari episentrumnya.

Hampir setengah abad lampau budayawan Perancis Andre Malroux menulis tentang bagaimana imaji dalam bentuk foto tersebar luas dengan perkembangan teknologi cetak, dalam lembaran buku-buku yang penyebarannya mampu melampaui wilayah lautan, lalu dicerap oleh para pembacanya, walaupun imaji di sana mendistorsi nilai-nilai dari yang riil dari sebuah objek, lukisan, atau suatu kejadian.2 Karena itu, imaji tersebut menjadi representasi dari apa yang riil dan kemudian dimaknai para pembacanya. Saat ini, persoalan menjadi lebih besar karena “museum-museum tanpa dinding” tak lagi hanya berkecambah dalam imajinasi atau pikiran tapi citraan atau imaji saat ini selalu bisa hadir kapan saja dibutuhkan.

Dengan hadirnya ruang-ruang maya, gambar-gambar atau imaji menyebar tanpa batas, lebih liar tanpa perlu didapat dari halaman-halaman dalam buku. Seseorang bisa mengunduh sebuah imaji dengan mesin pencari yang menyediakan jutaan data sekaligus dalam waktu singkat. Tetapi, distorsi nilai-nilai riil menjadi lebih besar lagi dan bahkan—dalam beberapa hal—nilai itu hilang sama sekali dan berganti dengan nilai yang mungkin bukan bersumber dari muasal. Dalam era internet, nilai kebenaran tidak lagi mengacu kepada suatu konteks tapi juga muncul dengan beberapa versi, atau bahkan sebagai tanda-tanda yang dianggap murni sebagai materi yang dipermainkan, sebagai suatu kesenangan.

Dalam karya-karya Julius, imaji sejarah seni rupa Barat mungkin merupakan arena tanda permainan, bukan lagi hanya sebagai objek pengetahuan untuk wahana kritisisme. Fragmen Warhol dan Basquiat dalam lukisannya telah diobrak-abrik struktur dasarnya untuk menghasilkan imaji personal Julius. Sebagai seorang yang mengalami pendidikan di akademi seni rupa, tentu Julius telah mempelajari bagaimana praktik seni rupa modern Barat memberi pencerahan pada kehidupan budaya manusia. Mereka adalah individu-individu yang diberi penghargaan dan dicatat secara khusus oleh sejarah mereka, lalu diamini ke seluruh penjuru dunia, sebagai bagian dari sejarah kita. Foto-foto kehidupan mereka menjadi perhatian media dan akademisi serta dikultuskan layaknya pahlawan. Julius telah mencampuradukkan imaji-imaji itu menjadi berbeda. Potret Dali muda dengan jam meleleh itu tentu tidak dalam konteks yang sama. Menurut Julius ketika Dali menciptakan lukisan Surealis itu ia sudah cukup tua, sebaliknya pada karya lain di wajah Dali tua, imaji lukisan harimau ketika ia muda ada di sana.3

Pembolakbalikan fakta ini menjadi potensi dalam logika kerja digital, maka bila tanpa diketahui konteksnya tentu pengamatan kita terkecoh. Potret Picasso di sana muasalnya bukan sedang melukis karya “para gadis dari Avignon” melainkan karya lainnya, karena maestro Spanyol itu masih muda ketika melukis kubistis. Begitu pun imaji yang lainnya. Kita rupanya disuguhi imaji-imaji fiksi berbasis fakta. Lalu apa tujuan akhir perbuatan ini? Seperti juga banyak dilakukan para pelukis muda yang senang menjelajah imaji, ia pun melakukannya untuk menciptakan perbedaan-perbedaan untuk dipindahkan ke atas kanvas-kanvasnya. Ini mengingatkan kita pada pendapat Barry Schwabsky dalam buku Vitamin P, yang menyatakan bahwa, berbeda dengan para pendahulu seni lukis modern yang lebih mengutamakan upaya mencari jawaban “apa itu melukis”, para pelukis masa kini lebih mencari solusi “problem of making”.4

Transformasi dari rekayasa digital ke atas kanvas merupakan aktivitas yang mengembalikan dunia maya yang imaterial ke dalam materi yang tradisional. Seni lukis yang telah berusia ratusan tahun ternyata sulit digeser sebagai praktik seni yang dominan dan adiluhung walaupun dianggap semakin dekaden karena “tak ada lagi kebaruan”. Namun praktik seni lukis justru memiliki gemanya kembali ketika teknologi imaji semakin canggih, dengan menggubah imaji dengan memanfaatkan alam digital lalu menggunakan alam melukis untuk merekonstruksi imaji sebagai proyeksi artikulasi pribadi. Praktik ini menjadi suatu proses de-digitalisasi untuk menghasilkan sebuah karya lukisan secara konvensional.

Bagi Julius de-digitalisasi menjadi suatu ritual dengan seluruh proses karyanya termasuk juga bagaimana metode rekayasa dengan program vektor. Dalam prosesnya kemudian, ketika ia memindahkan imajinya ke atas kanvas, ia justru tak lagi mengikuti pola-pola yang dikonstruksi oleh perangkat lunak tersebut secara akurat. Dengan mengabaikan beberapa aspek pola tersebut, ia membuat imaji itu tampak lebih punya nilai manusiawi. Pengabaian pola digital dalam proses menuju pembentukan imaji lukisan ini bisa dianggap sebagai ‘De-Vectorized effort’ atau de-vektoralisasi. Oleh karena itu proses ini bisa melibatkan aspek ‘craftmanship’ yang masih berlaku dalam praktik melukis.

Akhir kata, karya-karya Julius berhasil mengembuskan napas baru dalam jiwa yang mati dalam tiap potret tokoh-tokoh bersejarah itu. Memberinya warna-warna hidup yang lebih segar dan makna yang berbeda tentang cerita mereka. Lebih daripada itu, Julius memberikan nilai baru pada sejarah seni rupa Barat, suatu narasi yang lebih mengajak bermain dan bercanda dengan imajinasi tentang peradaban dan perilakunya.

English Version

In today’s digital era, the world of images becomes something that is problematic, but also one that stimulates the artists’ vigor and imagination. The digital world has a more flexible immaterial character, so that an image can be easily altered and disassembled: its shape, color, and size can be modified using a variety of software. “The ease” of modifying images does not only lead to artistic creations, but it is also often related to moral and social issues. The artists, therefore, basically contrive images to create new values in their own domain, i.e. the pictorial world, but one cannot deny the fact that this might eventually be related to aesthetic matters, or to the issue of how their society perceives things.

The works by Julius Setiawan might serve as an example of how the digital world has captured the imaginations of our young artists today—at least, according to curator Asmudjo J. Irianto, as a novel method to construct their initial ideas, or proto-ideas, before subsequently turning them into paintings. Almost all the series of paintings by Julius depict fragments of the lives of famous artists of the twentieth century, in bright and vivid colors that strike the eyes: Double portraits of Andy Warhol and Jean Basquiat standing in front of the painting of themselves with boxing gloves; or the face of young Salvador Dali with the melting clocks that represent a world between the real and the unreal, surrealism; or the cubism maestro, old Pablo Picasso, sitting and painting his masterpiece, Les Demoiselles d’Avignon.

Apparently, Julius is now interested in iconic pictures in the history of (Western) modern art of the twentieth century, as subjects that subsequently serve as raw materials for his works. After exploring the virtual world of the internet using the web-browser, he then downloads the pictures and processes them using Corel Draw software, automatically simplifying them into a vector graphic format,1 and therefore changing the construction of the pictures into lines and dots. The position, shape, and color of such constructions can then be easily modified according to the creator’s wishes. The transfer into the vector format turns the picture into a super-flexible construction.

The picture can subsequently be instantly colored using the palette provided by the computer program, or combined and sandwiched with different pictures. Therefore, what one sees in the “sketches” might no longer represent the original picture. This is where Julius plays a significant role; i.e. in the reconstruction and deconstruction of the image. In this case, the portraits have been re-assembled using the technology of vector images, turning them into pure signs that serve as raw materials from which he constructs images for his paintings. Today, the digital logic becomes a new point of consideration as the artists ponder about their methods of creating works, because the act of painting itself has eventually become a visualization strategy. As the images that the artists have processed using graphic software are transferred onto the canvases using acrylic or oil paints, the act of painting no longer serves as the domain in which the artists try to seek the answer to the question of what the act of painting constitutes; of what painting really is.

Iconic figures such as Salvador Dali, Pablo Picasso, Andy Warhol, and Jean Basquiat have inspired the modern art world with their thoughts and works. And it is more than that; to most artists they are like mesmerizing figures or legends. Their genius, eccentricity, and controversy have been celebrated as aesthetic achievements, subsequently promoted all along the history of Western civilization. This celebration reverberates all through the world, reaching universities in lands far removed from its epicenter.

Almost half a century ago, the French author Andre Malroux wrote about how images in the form of photographs had been widely spread as the print technology progressed, distributed in the pages of books across oceans, assimilated by a myriad of readers, although the images in the books distorted the values of the real objects, paintings, or events.2 Therefore, the images become the representation of what is real, of something to which the readers ascribed new meanings. Today, the problem is even greater as “museums without walls” no longer spread roots merely in imaginations and thoughts; rather, images will be present anytime we need them.

With the existence of virtual spaces, the images spread, heeding no boundary, even more wildly, and not only in book pages. One can download images with the help of a web browser that provides millions of data in a flash. Real values become even more distorted, and in some cases they have disappeared altogether, turned into values that might not have anything to do with the original ones. In the internet era, the value of truth no longer refers to a certain context; rather, it appears in a number of versions, and even as values that are truly considered as materials to play with, or as objects of pleasure.

In Julius Setiawan’s works, images from the history of Western art might constitute an arena of play signs, and no longer as merely the object of criticism. The basic structure of the Warhol and Basquiat’s fragment in Julius’s works has been taken to bits in order to create an image that is of Julius’s own. As someone who had been educated in the art academy, certainly Julius is aware of how the practices of Western modern art have illuminated the cultural lives of all humans. These figures were individuals who had been respected and occupied a special niche in the history of their society, and then the whole world acknowledged them further, confirming them as a part of the history of us all. Pictures of their lives had captured media attention as well as the interests of academics, and they were revered like heroes. Julius mixed those images together, creating something that is altogether different. Dali’s portrait alongside the melting clocks certainly does not have the same context as the original one. According to Julius, when Dali created the Surrealist painting, he was already quite old. On the other hand, there is the image of the Dali’s tigers on the face of an old Dali, while he actually painted the tigers when he was still young.3

How the facts are turned upside-down constitutes one of the potentials of the logic of digital works; therefore, if we know nothing of the context, our observations might be misled. Picasso’s portrait that we see here in this exhibition did not originate from a photo when the maestro was really painting “the girls from Avignon;” rather, he was actually creating another work, as the Spanish master was still a young man when he painted in the Cubist style. The same is true for other images. Apparently, we are presented here with fictional images that were based on facts. But what is the objective of such an effort? Like many other young artists who like to explore images, Julius is doing it to create differences that he can then transfer onto his canvases. This reminds us of what Barry Schwabsky wrote in his book, Vitamin P, which stated that, unlike the predecessors of the modern painting who focused on the effort to seek the answer to the question of “what the act of painting is”, the artists of today seek the solutions to the “problem of making.”4

The transformation from the result of the digital engineering to the canvas is an activity that brings back the immaterial virtual world to the traditional material. It turns out that it is difficult to take the place of the centuries-old art of painting as the dominant and supreme practice of art, although this very art form is often considered as becoming increasingly decadent because “there isn’t any novelty anymore.” The practice of painting, however, has acquired a fresh resonance as the technology of images becomes more sophisticated, as images are created in the digital realm and then the painting realm is used to reconstruct the images as the projection of personal articulation. The practice becomes a process of de-digitalization in order to create a painting in a conventional manner.

For Julius, the process of de-digitalization constitutes a ritual of sorts that includes the whole process of his work, including how the engineering method is used using the vector program. In the subsequent process, as he transfers the images onto the canvas, he no longer accurately follows the patterns that the software has constructed. By ignoring some aspects of the pattern, he makes the image appear to have more humane values. The act of ignoring the digital pattern in the process to construct the painting image can be considered as a “de-vectorized effort.” This process, therefore, might involve the craftsmanship aspect that is still valid in the practice of painting.

To close this essay, I say that works by Julius Setiawan is able to bring some new breaths in the long-silenced soul of the portraits of those historical figures. He gives them fresher and vivid colors and assigns them with new meanings. Furthermore, Julius also creates a new value in the history of Western art, providing it with a narrative that is more playful and imaginative regarding the civilization and human attitudes.

Tag:
Published: June 25, 2009





Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2018 viviyip artroom · webdesign by rio