memento:privatization room

Category: Curatorial

Oleh : Hafiz
(Menulis dari Tokyo)

Memento:privatisasi ruang
Pameran Tunggal Restu Ratnaningtyas

Pertanyaan pertama sebenarnya apakah ruang personal itu sebenarnya? Kata “ruang” begitu dekat dengan kita. Namun, jarang sekali kita berpikir tentang ruang-ruang itu sendiri, baik dalam konteks pribadi maupun sosial. Sering ada istilah “ruang kota”. Namun apakah ruang itu sudah hadir sebagai ruang yang memberikan peluang “ruang” kepada individu-individu di dalamnya? Kota yang kita kenal selama ini sering mengabaikan individu. Kota lebih dibangun sebagai struktur sosial untuk kepentingan ekonomi. Jakarta sebagai contoh paling pas untuk ini. Kepentingan manusia sangat terabaikan dalam tata letak kota besar ini. Ruang untuk berjalan kaki saja sangat sulit untuk mendapatkannya. Semua sudah didominasi kendaraan roda dua dan empat. Belum lagi pedagang kaki lima yang tidak pernah mendapat ruang yang layak, sehingga mengokupasi ruang-ruang yang diperuntukkan bagi publik.

Bagaimana membaca Restu Ratnaningtyas? Dalam sebuah pertemuan beberapa bulan lalu, seniman yang pernah kuliah di Universitas Negeri Jakarta ini meminta saya untuk mengkuratori pameran tunggalnya. Dari pembicaraan awal banyak sekali pertanyaan di kepala kami berdua. Apa yang harus disampaikan ke publik dengan karya-karyanya yang sangat personal dengan gaya melukis seperti komik ini? Pada pertemuan berikutnya hadir beberapa ide tentang benda-benda. Tapi pertanyaan lanjut muncul benda apa yang dimaksud oleh Restu.

Benda-benda yang hadir dalam karya-karyanya adalah benda-benda yang sebenarnya tidak ada bedanya dengan apa yang dikenal oleh generasi sebaya seniman ini. Tidak ada yang spesial. Namun, menjadi tantangan buat saya bagaimana membongkar benda-benda yang ada dalam bidang-bidang lukisannya itu dalam konteks bacaan senirupa sekarang. Kami banyak melakukan diskusi melalui teknologi anak zaman sekarang: chatting (Yahoo Messenger). Dialog teks melalui teknologi maya ini sangat menarik. Ada keintiman di situ. Restu mulai membongkar sendiri bagaimana kode-kode dari benda-benda itu hadir di dalam karyanya.

Dari kode-kode benda ini kami mencoba merelasikan dengan persoalan-persoalan yang paling aktual dari fenomena masyarakat kontemporer. Kami bicara komputer (baik secara fungsi, kegilaan, teknologi, dan ruang) dengan berbagai perspektif. Tentu, itu ada kaitannya dengan apa yang menjadi pengalaman pribadi seniman ini. Melalui pembicaraan itu kami mencoba membongkar satu per satu kode-kode visual itu dalam berbagai perspektif; sosial, politik, ekonomi, budaya, dan konteks personal (memori, di situ juga ada passion, cinta, ketakutan, dan keterasingan).

Dari rangkaian kode-kode yang kami diskusikan, Restu menemukan persoalan “ruang” yang saya tulis di pembuka tulisan ini. Ruang ini menjadi sangat berubah saat kode-kode itu dirunut dalam beberapa tingkatan kepentingan menurut senimannya. Saya menemukan bahwa Restu punya ikatan-ikatan yang sangat sensitif dan emosional dengan benda-benda itu. Bagi saya ikatan-ikatan inilah yang memunculkan ruang-ruang yang diprivatisasi oleh senimannya dalam bingkai-bingkai lukisannya.

Kode-kode visual ini hadir dengan “sejarah” dan “memorinya” sendiri-sendiri. Baginya ruang adalah bagaimana membangun batas-batas tertentu baik dengan sengaja maupun tidak. Ruang-ruang ini memberikan kepercayaan diri dan memberi “kuasa” kepadanya untuk mengontrol peristiwa-peristiwa sosial di sekitarnya. Ada peristiwa dan kesakitan di dalamnya. Tentu, itu milik Restu sebagai seniman yang tidak perlu saya jelaskan di sini. Ada kekecewaan yang mendalam pada peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak bisa diabaikan. Memori inilah yang mengiringi dalam kode-kode visual Restu.

Misalnya; pada suatu ketika kami mendiskusikan apa sebenarnya itu donat. Kenapa donat bundar? Kenapa sekarang ada donat yang tidak bolong di dalamnya. Restu punya obsesi tertentu dengan donat ini. Ia bisa menjelaskan bagaimana membuat donat walau itu pengalamannya membuat donat ketika masih kecil. Dalam diskusi itu ada kesenangan yang tak bisa diabaikan dalam membuat donat. Saat kami diskusi, saya sendiri baru tahu ternyata donat bisa dibuat dari kentang.

Dari pameran ini Restu mencoba membongkar kepingan-kepingan memorinya selama ini, yang pasti dilihat dengan perspektif saat ini. Karena kehadiran benda-benda yang membentuk ruang yang saya sebutkan juga menghadirkan kode-kode visual kontemporer yang memang tidak bisa lepas dari dunia anak muda zaman sekarang.

Pada pameran ini Restu menampilkan lukisan dan figur yang hampir semua merupakan karya-karya baru. Juga ditampilkan beberapa teks sebagai bagian dari pembacaan kode-kode yang selama ini kami lakukan.

Inilah Restu Ratnaningtyas, seorang seniman perempuan muda yang berusaha mengokupasi ruang-ruang sosialnya menjadi ruang pribadinya. Pada bagian tertentu dalam salah satu lukisnya ada kaktus berdiri di antara obat-obatan dalam ruang alienasi seniman ini: jamban. Selamat menyaksikan.

English

By Hafiz
(write from tokyo)

Memento:privatization room
Solo exhibition by Restu Ratnaningtyas

The first question will be: what is the privatization room, actually? The word ‘room’ is so close to us, but only rarely do we stop to think about the room, be it in the personal or social context. Often we hear the term ‘urban space.’ But does the room truly exist as one that gives a “spatial opportunity” for the individuals inside? The city that we know today often ignores the individuals. The city has been more developed as a social structure for the interest of the economy. Jakarta is the most apt example for this. Human needs have been very much ignored in the spatial arrangement of the city. It is very difficult even to find a space for pedestrians. All spaces have been dominated by four wheel and two wheel vehicles. Not to mention the street vendors who are not provided with a room of their own and thus occupy the spaces actually reserved for the public.

How does one read Restu Ratnaningtyas? During an encounter a few months ago, the artist who once studied at the State University of Jakarta (UNJ) asked me to be the curator for her solo exhibition. From the initial discussions, many questions emerged in our minds. What must we present to the public, with her deeply personal works and the painting style that is akin to that of comics? Our subsequent encounter brought us the idea of things. But then there was a further question of what exactly was the thing that she wanted to present.

The things that are present in her works are things that actually are no different with those known by people from her generation. Nothing special about them. But it was a challenge for me to deconstruct the things appearing on her canvass using the context of current art discourses. We had a lot of discussions using the technology so familiar for the youth of today: chatting (using Yahoo! Messenger). The textual dialogues on the virtual platform of technology have been very interesting. There is a certain intimacy with such dialogues. Restu started to peel through the codes of the things on her works, how they appear on her canvasses.

We then tried to relate the codes of the things with the actual problems of the contemporary society. We talked about computers (be it in terms of their function, of technology, of space, and of people’s obsession about them), using a variety of perspectives. Naturally, they all had to do with the artist’s personal experiences. In our discussions, we tried to peel through the visual codes one by one, layer upon layer, using a wide range of perspectives: social, political, economic, cultural, and the personal context (memories, in which there were passions, love, fear, and alienation).

From the series of codes we were discussing about, Restu arrived at the problem of “space,” which I mentioned in the opening of this essay. The space changes dramatically as the codes are lined up in several layers of interests according to the artist. I found out that Restu has a very sensitive and emotional relationship with those things. To me, it is such relationship that has given rise to spaces that the artist had made personal within the frames of her paintings.

Such visual codes are present with their own “history” and “memory.” To her, space is about creating certain boundaries, deliberately or not. The space endows her with the confidence and “power” to control the social events around her. There are events and pain inside. Of course, those are her personal belongings that I do not need to explain here. There are profound disappointments in certain events that she cannot ignore. It is such memories that loom over Restu’s visual codes. One day, for example, we discussed what a doughnut actually was. Why is it round? Why are there doughnuts with no holes in the center? Restu has a certain obsession with the doughnuts. She can explain how to make doughnuts, although the knowledge originated from so long ago, when as a little girl she had the experience of making doughnuts. In that discussion, there was a palpable joy when she talked about the experience. As for myself, I only found out from that discussion that one could actually make doughnuts from potatoes.

From this exhibition, Restu tries to peer through the fragments of her memories so far, naturally by using today’s perspective because the presence of things that gives form to the space also conveys contemporary visual codes that are indeed inextricable with the lives of today’s youth.
In this exhibition, Restu presents mostly new paintings and figures. There are also textual parts, representatives of our code-reading efforts so far.

This is thus Restu Ratnaningtyas, a young female artist who tries to occupy her social spaces, turning them into her personal spaces. In one of her painting, one can see a cactus standing erect amongst medicines in the artist’s space of alienation: the toilet. Happy viewing.

Tag:
Published: November 27, 2008





Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2022 viviyip artroom · webdesign by rio