Pada Tiap Rumah Hanya Ada Seorang Ibu

Category: Curatorial

Pada mulanya adalah lembaran tipis bernama karbon. Lembar ini menyisip tidak kentara di antara kertas gambar dan apa yang menumpang di atas permukaannya. Karbon biasanya kita gunakan untuk me-ngeblat atau menjiplak gambar atau tulisan. Hasil karbonan tidak mendaku sebagai “asli”, sebagaimana klaim yang disuarakan para pegrafis tentang keaslian seluruh edisi-cetakan karyanya. Mengarbon adalah menjiplak, me-ngeblat atau menyalin. Hasil karbonan adalah lembaran hasil tindasan, salinan atau turunan. Makin banyak tumpukan lembaran karbon digunakan untuk ngeblat, makin kabur dan jauh citra atau bayangan yang dihasilkan dari sumber asalinya.

Theresia Agustina Sitompul (Tere) memanfaatkan karbon sebagai medium monoprint untuk me-ngeblat barang-barang miliknya: baju kebaya, rok, jins, celana dalam, beha, kaos dalam, baju dalam dan kaos kaki. Malah baju-baju anaknya dan ibunya diangkut juga, dikeluarkan dari lemari untuk ikut-ikutan dikarbon. Bahan kertas karbon –tidak mengandung bahan kimia logam— digunakan sebagai pengganti tinta cetak. Relief atau cetak tingginya tidak dihasilkan dari teknik cukilan (papan keras atau kayu), tetapi berasal dari tekstur lembut kain, jelujuran tipis pada baju, tonjolan benang yang menumpuk pada motif bordir atau brokat, benjolan kancing, pelipit dan garis-garis lipatan pada celana dalam, blus, rok, celana jins dan sebagainya.

Tere mencap benda-benda, tidak mencetaknya. Dia tidak membuat “cetakan” tapi sebutlah saja cap-capan. Teknik mencap menghasilkan cetakan yang lebih kabur seperti jejak-jejak tipis yang tidak sama rata pada bidang permukaan. Kalau hasil cetakan selalu berambisi untuk mencapai kepersisan, mengarbon sebaliknya lebih dekat dengan kesamaran, menghasilkan gambar-gambar yang mirip dengan bayang-bayang goyah dan bergetar. Jejak barang-barang pribadi yang dikarbon itulah yang memproduksi samudera-samudera kecil kebiruan, aneka bentuk dan lekuk, mengambang halus di permukaan kertasnya.

Antara Identitas dan Ambiguitas

Dengan me-ngeblat sisi luar aneka macam baju (baju luar dan baju dalam), tersirat bayangan tubuh pemakainya pada hasil blat-blatan itu. Pakaian harian Tere menghasilkan bayangan bentuk dan aura estetik tubuh Tere, baju princess favorit Blora yang panjang memproduksi kemungilan tubuh sang anak. Begitu pula, baju almarhum ibunya akan membuat kita membayangkan kembali tubuh ibunda Tere yang pernah ada.

Apa sebenarnya tujuan me-ngeblat baju-baju itu?

“Selalu ada yang sadar dan tidak sadar pada karyaku,” kata Tere.

Samudera samar dan batas-batas biru yang kabur tampaknya justru menentramkan hati Tere, sang pengarbon atau pembuat bayangan. Seniman biasanya memang sudah tahu apa yang seharusnya dibuat kabur dan mana yang semestinya terang-benderang. Bagaimanapun, samar atau jelas, jejak tubuh selalu terasa lebih mengesankan dan mendalam, multitafsir ketimbang segumpal daging, belitan otot dan susunan rangka-tulang. Bayangan kabur yang diterakan di atas kertas kosong dengan begitu dapat dilihat sebagai kesan-kesan atau cap tubuh (perempuan) yang tersamar pada baju. Itu dia citra-citra kultural yang tanpa sepenuhnya kita sadari sudah semakin melekat dengan fakta-fakta biologis dan natural kita. Mula-mula pakaian adalah penutup tubuh, lalu pelan-pelan menjadi kulit kedua, kemudian menyerap (dan memancarkan) aura, citra dan hasrat tubuh pemakainya.

Maka dapat juga dikatakan, baju adalah bayangan tak sadar dari tubuh. Citra baju menjelma sebagai penanda tak sadar yang membentuk identitas (ke) perempuan(an) pada karya Tere. Sosok Tere muncul atau eksis melalui (bayangan) pakaian, barang personal yang melekat pada tubuhnya, ke mana pun dan di mana pun, setiap hari. Itulah bayang-bayang seorang perempuan, seorang ibu.

Bayangan sang ibu muncul bersama gadis kecilnya, Blora. Pada beberapa karya, kita melihat keintiman antara ibu dan anaknya, Tere dan Blora. Suatu ketika Blora menyerobot, menyeruduk masuk ke dalam rok panjangnya, mendesak ke perut, menjadi satu dengan tubuh Tere. Kala yang lain, mereka saling menggenggam tangan dengan erat, menatap lurus ke depan. Atau ibu dan anak itu merunduk bersama seakan berikhtiar mencari perlindungan atau menghindar dari bahaya. Pada adegan lain, tampak gadis mungil duduk tenang pada sepasang lipatan lengan baju kebaya ibunya yang tembus pandang, seperti di atas singgasana.

Bayangan ibunya Tere juga hadir bersama citra samar baju-baju lama almarhum yang di-blat. Seorang ibu tidak “mencetak” anaknya. Ibu meninggalkan jejak pada sang anak entah di mana, di bagian apa, dan kita tidak tahu juga sejak kapan persisnya. Jejak atau bayangan itu membuat perempuan atau gadis kecil, entah bagaimana pula kadang begitu mirip ibunya. Bayangan itulah yang sesekali mungkin jelas, tapi pada saat yang sama tak selalu kentara. Bekas-bekas luka tentunya bukanlah cetakan luka, tetapi bayangan luka. Bayangan luka bukanlah luka, dan bayangan baju atau tubuh bukanlah yang sebenarnya, karena itu selalu menggoda.

Lalu, kemana perginya sang bapak?

Tanpa kehadiran sosok bapak, kita mestinya boleh menafsir identitas perempuan (femininity) dan keibuan (maternity; motherhood) pada karya-karya cap-karbonnya Tere. Betapa kerapnya para seniman menggunakan strategi keibuan untuk merepresentasikan identitas (ke)perempuan (an)-nya. Motherhood adalah “jaminan nyata tentang (ke)perempuan(an) bagi perempuan-seniman yang memendam cita-cita itu.” Tapi belakangan, koneksi berabad-abad antara keibuan dan keperempuanan yang sifatnya normatif sudah sering ditolak oleh para seniman sendiri. Lihat saja citra ibu bertubuh gempal dan bertato tengah menyusui anaknya (Catherine Opie), atau citra fotografis dua lelaki muda yang tengah hamil tua dan meringis (Hiroko Okada). Karya-karya perempuan-seniman itu menunjukkan pelanggaran terhadap batas-identitas konvensional mengenai gender. Pada saat itu, (potensi) motherhood tidak lagi merupakan sesuatu yang khas-gender. (Linda Nochlin; 2007, hlm 65).

Sepanjang wawancara saya dengan Tere, sang seniman rupanya juga menolak “teori” tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan yang berbau “normatif”. Yang ditolak bukan isi kesetaraan itu sendiri (misalnya peran-peran sosial atau pembagian kerja antara keduanya berdasarkan fakta biologis), tetapi teori yang berhenti sebagai “teori”, atau hanya sebatas “representasi”. Kalau suamimu marah-marah dan menggedor pintu kamarmu di larut malam gara-gara tak ada nasi di dapur, saat kau terlelap karena sudah lelah seharian mengurus “anakmu”, tentunya tak akan cukup hanya menggambarkannya pada karyamu. Kau mesti mengejar cita-citamu sendiri, memperjuangkan kesetaraan dalam hidupmu sehari-hari, agar kau justru tidak sekadar gemar memformalkan atau men-teori-kan segala macam ketaksetaraan.

Jadi, apakah karya seni memang cocok untuk perjuangan kesetaraan? Sebuah pseudo-teori atau pseudo-kesetaraan, kalau nyatanya kau —sebagai perempuan— seumur hidup mencuci baju di sumur atau memasak sayur di dapur, sekadar menjadi “kanca wingking”?

Saya bertanya dan bertanya lagi kepada Tere, bagaimana mesti mengaitkan antara karya seni dan identitas gender seorang perempuan? Jawabnya singkat, yaitu: Saya ingin membuat orang lain berbahagia melihat karya saya.

Bagi Tere, representasi “identitas” perempuan itu mesti ditarik sampai ke belakang, yakni sampai ke realitas “wingking”. Pertanyaan Tere bunyinya lebih kurang adalah begini: apakah perempuan menggunakan identitas itu sebatas isu-gender seraya justru diam-diam melestarikan kesenjangan yang ada? Atau menolaknya sejak mula ketika merasa bahwa ketimpangan itu justru eksis dalam keseharian?

Maka kalau saya boleh memahami pandangan Tere yang tersirat pada karya-karya karbon itu, jadinya muncul pikiran berikut ini. Identitas perempuan pada karya perempuan seniman bukan demi menciptakan sesuatu yang berbeda, supaya (ke)laki-laki (an) dan (ke)perempuan(an) secara hakiki tampak sebagai sesuatu yang bebeda. Sang seniman —perempuan seniman— tidak perlu membeda-bedakan diri begitu rupa dengan citra-citra keperempuanan, karena baginya tak ada perbedaan yang sungguh esensial antara laki-laki dan perempuan. Lho?

Perbedaan adalah (tetap) perbedaan, pikir saya lagi. Dan selalu menantang. Soal apakah itu esensial atau tidak esensial —atau apakah bagi kita memang ada sesuatu yang bernama “esensial”—soalnya bisa lain. Kalau perbedaan itu tidak terlalu disadari sebagai sesuatu yang hakiki, boleh jadi karena bagi Tere karya-karya karbon, citra ibu-anak, citra baju-baju perempuan yang samar itu hanya ingin membuat orang lain berbahagia. Kendati boleh jadi karya-karya itu lahir melalui perjalanan, rasa-merasa atau pengalaman yang tidak selalu membahagiakan. Kalau memang begitu, apakah kita memang tengah merasakan ketaksaaan atau ambiguitas antara pernyatan dan karya-karya itu, antara pengalaman dan representasi atau “teori”?

Helen McDonald membahasakan situasi itu dengan istilah “ambiguitas” yang menjelujur pada telaah para ahli feminis, khususnya berkenaan dengan keutamaan tema tubuh perempuan di ranah visual. Bukankah ada ambiguitas pada representasi tubuh perempuan, yakni objek pertunjukan erotik (bagi sang seniman), sekaligus rangsangan kenikmatan visual (untuk penonton) ? Di masa belakangan, ambiguitas erotik cenderung tidak lagi dipersoalkan, yang kini dipertaruhkan adalah sesuatu yang dianggap lebih tinggi: menemukan cara untuk mengamanatkan gugatan-gugatan etis menjadi keprihatinan bersama. (Helen McDonald; 2001; hlm. 29).

Kata Tere, “Sebenarnya saya bingung juga untuk mejelaskan apa kebahagian itu. Atau mungkin saya sendiri yang kurang bisa membuat diri saya sendiri bahagia. Tapi impianku adalah menjadi perempuan mandiri.”

Rupanya, menjadi mandiri itu bahagia, dan mereka yang berbahagia adalah sosok-sosok mandiri. Apakah pada blat-blatan karbon itu Tere memang tampak sebagai perempuan yang mandiri?

Ibu, Ibuku dan “Yang Satu”

Di pameran ini kita tidak hanya bersua dengan karya “grafis” hasil me-ngeblat atau me-ngarbon yang tipis dan kabur, tetapi juga sepuluh buah objek buku yang tebal dan kukuh. Seperti dapat kita duga, isinya lebih kurang adalah melulu citra Tere, Blora dan bayangan baju-baju itu. Ada juga pepatah-petitih, hasil cap-capan alfabet dari A sampai Z yang entah mau disusun menjadi apa. Seluruh halaman, beratus-ratus halaman membentuk satu buku. Buku itu satu, tetapi juga jamak. “Ibu”, “ibuku” dan “buku” rupanya memiliki kemiripan bunyi dan bisa juga menjadi permainan yang bermakna bagi sang pengarbon. Tere mengajak kita pulang ke rumah yang lebih dalam, pulang ke rumah ibu, kembali pada halaman-halaman dan isi buku. Dengan geregetan dia membuat sebuah lubang yang sangat dalam pada buku untuk menunjukkan tidak terbatasnya isi buku.

Seperti buku yang satu, Tere menggunakan metafora tentang Sang Ibu sebagai “Yang Satu” dalam karya-karyanya. Cobalah merenungkan ibu. Suatu ketika ibu bersama kita di dalam satu rumah. Pada suatu ketika yang lain ibu tidak lagi berada di situ, di rumah kita itu. Rumah ibu adalah selalu rumah kita, tapi rumah kita tidak mesti menjadi rumah ibu kita. Di suatu waktu, seorang perempuan adalah seorang anak dari seorang ibu. Dan di waktu yang lain, perempuan kecil itu adalah seorang ibu, “menjadi” ibu. Pada suatu waktu pula, usia kita sama bahkan lebih tua dari ibu kita. Tapi kendati begitu ibu tetap adalah ibu. Dialah Sang Ibu. Dan kata Tere, “pada tiap-tiap rumah selalu hanya ada satu Ibu, “Yang Satu”.

Apakah Ibu, “Yang Satu” itu selalu sosok perempuan?

Inilah ungkapan Tere: “Ibu bisa dibilang bukan hanya perempuan. Kebetulan ibu di sini perempuan karena dia harus menyusui anaknya. Karena itu ada ikatan emosional antara seorang ibu dan anak. Tapi ada juga ibu yg tidak menyusui dan ada juga bapak yang berusaha menjadi ibu, seperti bapak saya misalnya, sewaktu ditinggal oleh ibu saya. Bapak saya selalu berkata bahwa dia itu adalah “BaBu” artinya Bapak-Ibu. Tapi idealnya, bagi saya ibu ya, hanya satu, “Yang Satu”.

Dua tahun lalu saya mendengar istilah ibu sebagai “Allah yang katon”, atau Allah yang kasat mata dari seorang seniman, Maria Indriasari. Maria membayangkan peran ibu atau semacam idealisasi ibu yang memberi kebaikan untuk seluruh anggota keluarga, dan terutama sebagai pelindung semua orang yang ada di dalam rumah. Sebagaimana Tuhan yang baik untuk seisi alam, maka ibu atau Sang Ibu adalah lambang sosok kebaikan bagi seisi rumah. Kebaikan ibu memancar, menjadi sumber kebaikan bagi seisi rumah.

Pada karya Tere, kita sebenarnya juga melihat bayangan ibunya. Di antara baju-baju yang di-blat atau dikarbon itu ada baju ibunya. Ukuran bajunya sendiri sekarang sudah lebih besar dibandingkan baju-baju almarhum ibunya. Bagian manakah dari tubuhmu yang mirip dengan tubuh ibumu? Manakah tubuh anakmu yang mirip dengan tubuhmu, sebagai ibu?

Karena baju sekali lagi tidak cuma untuk penampilan luar, tetapi juga dicerap oleh tubuh pemakainya, kita selalu tergetar melihat baju, bahkan hanya bayangan baju. Misalnya saja pakaian atau baju-baju lama yang ada di lemari di rumah kita, yang pernah dikenakan oleh anggota keluarga kita.

Ketika suatu ketika Tere melihat baju-baju itu, pastilah itu pula yang pertama-tama menggetarkannya. Melalui medium karbon yang ditemukannya secara tak terduga sebagai sebuah pilihan untuk melahirkan karya cetak tunggal (monoprint), ia menawarkan makna kepada kita: perempuan atau ibu yang ingin berbahagia, mandiri dan karena itu tidak bersedia menjadi “korban” dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Ibu yang laksana buku tebal dan kukuh, meski ada lubang hitam di dalamnya. ***

 

Jakarta, 11 November 2014.

Hendro Wiyanto

Tag:
Published: December 17, 2014





Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2017 viviyip artroom · webdesign by rio