Uncorked

Category: Curatorial

Oleh Jim Supangkat

Sebuah lukisan Inge Rijanto yang ditampilkan pada pameran tunggalnya di Vivi Yip Art Room ini berjudul “Delicate Fizz.” Lukisan ini menampilkan champagne Piper Heidsieck.
Ketika champagne mahal itu dituangkan terlihat dari bibir champagne goblet yang lebar gelembung-gelembung kecil seperti berenang ke permukaan champagne. Ketika meletup di permukaan dengan desis halus mewarnai aroma champagne. Ketika champagne dihirup gelembung-gelembung yang pecah di rongga mulut menyapu permukaan lidah dengan lembut. Inilah delicate fizz Piper Heidsieck—jauh dari rasa limun yang sodanya nyekrus dan nyegrag di tenggorokan.

Akan tetapi pada lukisan itu Inge Rijanto menampilkan pula letupan lain yang tak ada hubungannya dengan champagne’s hissing. Ia melukis fragile goblets pecah berantakan dan berhamburan di sekitar botol Piper Heidsieck. Dengan latar merah tua, gelas-gelas minuman keras ini, kristal yang indah, sangat tipis dan ringkih ditampilkan dramatik pada saat terpecah (terhempas atau terkena badai atau ledakan). Sebuah imajinasi yang mencerminkan kecemasan.
Maka pada lukisan itu Inge tidak cuma menampilkan rasa sophisticated Piper Heidsieck yang mewarnai life style kehidupan cosmopolitan. Pada lukisan ini tecermin pandangannya yang melihat gaya hidup cosmopolitan sebagai fragile goblets, sebuah metafora yang punya banyak signifiers.
***

Pameran bertajuk “Uncorked” ini menampilkan karya-karya Inge Rijanto yang semuanya dikerjakan pada 2008. Karya-karya pada pameran ini—dalam bentuk lukisan realistik dan patung (bronze) berukuran kecil—berawal pada rasa tertarik Inge pada botol-botol minuman keras.
Ia terpesona melihat botol minuman keras yang selalu menampilkan desain menarik seperti botol-botol parfum. Dan ia sampai pada pertanyaan yang dirasakan kebanyakan orang. Bila isinya habis apakah botol-botol ini dibuang? Ia tidak perlu jauh-jauh mencari jawaban karena anaknya mengoleksi botol-botol minuman keras ini. Karena koleksi ini sangat beragam Inge punya kesempatan untuk mengenal botol-botol minuman keras ini. Ia mengamati dengan lebih cermat bentuknya. Ia menemukan pula serba-serbi keistimewaan isinya dan pemahaman mengapa minuman ini menjadi mahal dan utama dalam cosmopolitan life style.

Pengalaman visualnya sebagai pelukis dan pematung membuat hasil observasi itu memunculkan gagasan menyiapkan sebuah pameran dengan tema botol-botol minuman keras itu. Pertimbangan yang muncul pada awalnya, ia merasa tidak perlu lagi mencari-cari ide untuk berkarya. Keindahan ada pada hampir semua aspek botol minuman keras. Bentuknya, warnanya, label dan kemasannya serba menarik.

Akan tetapi, Inge tidak begitu saja mengangkat botol-botol itu dan membuat, misalnya instalasi, atau menggunakannya sebagai ready made dalam membuat karya. Ia merasa masih terikat pada kerja melukis dan kerja mematung. Karena itu ia kemudian membuat lukisan yang menyalin botol-botol itu atau membuat duplikat botol-botol dalam bentuk tiga dimensi. Dalam proses ini ada pengolahan artistik.

Terlihat jelas pada karyanya, Saturday Night Fever yang menampilkan botol minuman Absolute Disco yang dibuat memang menyerupai lampu disco yang sparkling. Pada Saturday Night Fever ini Inge membuat duplikat Absolute Disco dalam ukuran lebih besar. Karena itu karya ini melibatkan proses pembuatan yang sulit. Ia harus menempelkan satu per satu kepingan-kepingan cermin dengan skala ukuran yang tepat agar bentuk dan image botol Absolute Disco tidak berubah.

Dalam bentuk lukisan pengolahan artistik terlihat pada karyanya Top Range di mana ia menampilkan sejumlah champagne yang dikenal paling berkelas—dan paling mahal. Hanya mulut dan leher botol yang tampil pada lukisannya dan Inge seperti ingin menampilkan keseragaman pembuatan tutup botol champagne—lilitan kawat penahan tutup gabus dan timah tipis pembungkus mulut botol—satu tradisi yang sudah dijalankan ratusan tahun.

Bentuk botol-botol champagne yang ditampilkannya tidak istimewa—bentuk botol champagne memang hampir seragam. Namun wibawa kelompok champagne paling berkelas ini kelihatannya menjadi dasar ia membangun ungkapan. Pada lukisannya botol-botol ini berjajar seperti sederetan tokoh dalam sebuah photo session. Warna penutup botol champagne yang sebenarnya beragam menyatu dalam nuansa warna perak kebiruan dengan latar biru gelap. Lukisan ini sangat menarik.

Pameran Inge kali ini—yang dikerjakan dalam proses seperti mengerjakan sebuah proyek—menunjukkan perubahan pada perkembangan karya-karyanya. Pada perkembangan sebelumnya ia melukis dan mematung dengan tujuan menghadirkan “obyek estetik” yang biasanya dilakukan melalui proses serba sophisticated—mencari ide, melakukan penghayatan, menyusun warna, mengolah material, memperhitungkan bentuk dan sebagainya. Dalam pameran ini ia mengandalkan rasa keindahan umum—mudah dirasakan publik—dan pada saat yang sama memproduksi tanda-tanda yang mudah dikenali pula.

Kembalinya Inge ke keindahan umum itu tidak mengejutkan karena pendidikan yang dijalaninya di Hochschule fur bildende Kunste, Berlin, adalah pendidikan fashion designer. Setamat sekolah ia juga bekerja di bidang fashion sebelum memutuskan menjadi seniman pada akhir 1990-an. Gejala yang bisa dilihat mengejutkan adalah keberaniannya mengambil keputusan karena perkembangan yang ia tinggalkan mengikuti tradisi ‘art’ dengan ‘A’ kapital, sementara lingkup perkembangan baru yang dimasukinya—pada pameran ini—dikenal sebagai ‘art’ dengan ‘a’ kecil.

Akan tetapi dalam perkembangan seni kontemporer justru tradisi ‘Art’ itu yang disangsikan dan kemudian bahkan ditinggalkan karena pada ujung perkembangannya melahirkan penjelajahan artistik yang tidak bisa dikenali lagi. Karya-karya yang dihasilkan memperlihatkan pemikiran yang esoteric (tidak dipahami masyarakat) dan “kemurnian” obyek estetik yang dirayakan lepas dari hampir semua persoalan dalam kehidupan.

Masuk akal apabila reaksi pada tradisi “Art” itu membuat dunia “art” dengan “a” kecil menarik perhatian. Dalam perkembangan seni kontemporer, sejumlah besar seniman menggali tradisi seni yang dulu disebut “low art” dan barang-barangnya disebut “kitsch” ini.
Hasilnya serba kebalikan dari tradisi “Art”. Kecurigaan bahwa tradisi “art” dengan “a” kecil tidak membawa makna, ternyata tidak benar. Tradisi seni ini—bisa ditemukan di banyak sektor—malah kaya dengan simbol dan tanda-tanda yang mudah dikenali masyarakat dan komunikasi dengan mudah terjalin.

Perubahan selalu mempunyai sisinya yang radikal. Produksi tanda-tanda pada karya kontemporer dan pembacaannya—dikenal sebagai pendekatan semiotik—melahirkan keyakinan bahwa simbol dan tanda-tanda ini harus sepenuhnya mengikuti referensi yang ada pada masyarakat (dikenali melalui bahasa). Keyakinan ini—yang sekarang semakin banyak diikuti—menutup pembacaan gejala artistik pada karya seni dan bahkan menghilangkan otoritas seniman atas karyanya sendiri. Namun keyakinan ini hadir pada perkembangan seni kontemporer bukannya tanpa resistensi

Inge tidak akrab dengan pemikiran yang menghasilkan keyakinan itu dan ini membuat ia tetap percaya pada tradisi seni. Simbol dan tanda-tanda pada karyanya adalah simbolisasi tegangan yang muncul dari pengalaman personal (inilah ekspresi pada karya seni).

Kecenderungan itu bukan perkembangan baru pada karya-karya Inge. Pada perkembangan sebelumnya ia tidak pernah lepas dari upaya membangun simbol-simbol. Kendati lukisan dan patungnya bisa dilihat sebagai upaya menampilkan obyek estetik, karya-karyanya—seperti kebanyakan seniman Indonesia—hampir selalu mengandung narasi. Karya-karyanya sudah sejak dulu kaya metafora.

Karena itu pada pameran ini Inge tidak cuma menampilkan botol-botol minuman keras dengan segala macam pesonanya. Meneruskan kecenderungannya membangun simbol-simbol ia menampilkan sosok (figures) dalam bentuk patung-patung kecil perunggu (bronze) pada karya-karya tiga dimensional yang bertema botol.

Kendati tampil bersama botol, sosok itu berada pada ruang berbeda. Tecermin pada ukuran patung manusia yang lebih kecil dari ukuran botol. Pada pemisahan ruang kehadiran ini bisa ditemukan konsep pameran Inge kali ini. Pada penampilan botol minuman keras ia menggali tanda-tanda life style cosmopolitan. Sementara itu patung-patung bronze yang disajikannya mencerminkan upayanya menggali aspek-aspek kehidupan yang berkaitan dengan tanda-tanda ini.
Melalui patung-patung ini ia bercerita tentang kehidupan di dunia cosmopolitan di mana life style bukan satu-satunya persoalan walau paling menarik perhatian.

Tidak sulit untuk menangkap cerita pada karyanya Romantic Liaison. Karya ini menampilkan seorang lelaki mengangkat toast dengan gaya seenaknya sambil menumpangkan tangan pada botol minuman keras yang dari bentuknya bisa dipastikan Napoleon Hennessy Cognac, a must di kalangan peminum. Pada karya ini Inge memperlihatkan pemujaan tanda-tanda gaya hidup cosmopolitan tanpa memberinya penilaian.

Pengungkapan kesan seperti terlihat pula pada karyanya, Legendary Glamorous, yang menampilkan seorang perempuan duduk di atas botol champagne dom perignon rose, Möet et Chadon. Minuman yang selalu bertengger di jari-jari para celebrities pada cocktail parties.

Pada karya Taste of Load pandangan Inge lebih terlihat. Di sini ia menampilkan seorang lelaki menggotong botol minuman keras dengan gestur seorang kuli. Tentang karya ini ia mengemukakan ia terkesan pada para pekerja yang mencari penghasilan di kantung-kantung kehidupan cosmopolitan—bartender, pencuci piring, satpam, pelayan. Mereka berada di lingkaran ini namun tidak sesungguhnya berada di dalamnya. Inge bertanya-tanya, seperti apa sebenarnya perasaan mereka.

Inge Rijanto hidup di lingkungan cosmopolitan itu dan secara tetap berada di kantung-kantung tersembunyi di mana cosmopolitan life style memperlihatkan manifestasinya yang paling nyata. Namun tegangan yang tampil pada ekspresi karya-karyanya menunjukkan ia tidak bisa memastikan apakah kehadirannya inside atau outside dunia ini. Ia tidak selalu “in” di tengah hiruk pikuk dunia gemerlap ini (lingo-nya “dugem”). Ia sering diganggu interval di mana ia tiba-tiba merasa berada di luar dunia ini. Ketika itu ia mengamati keadaan sekeliling dengan tegangan emosional—ini dasar ekspresi karya-karyanya pada pameran ini. Kepekaan atau sense—yang ada pada perasaan dan pikiran—membuat tanda-tanda yang ditangkapnya bisa berubah makna secara radikal ketika tegangan inside-outside ini muncul.

Dua karyanya, Hang Out dan Rendez-vous yang tidak menyertakan botol, memperlihatkan tanda-tanda yang mencerminkan simbolisasi tegangan itu. Kedua karya ini merupakan patung bronze berukuran kecil yang masing-masing terdiri atas lima sosok.
Keluar dari tradisi mematung yang biasanya menampilkan keindahan momen melalui sosok tunggal, kedua kumpulan patung itu menampilkan suasana—yang lebih mudah dicapai melalui lukisan. Melalui pendekatan artistik—peniadaan properties, perhitungan gesture, pengolahan fashion pada sosok dan tentunya keindahan bronze—Inge menampilkan intentional represetations yang memancing renungan.

Hang Out yang menampilkan sosok-sosok dinamis di lantai dansa dan Rendez-Vous yang menampilkan perilaku di sudut-sudut nyingkir ruang-ruang night life, bersama-sama membangkitkan pertanyaan, siapakah mereka yang bercengkerama di dunia dugem ini? Satu per satu sosok pada kedua karya ini kemudian menyodorkan perilaku yang seolah menunjukkan warna-warna berbeda di dunia dugem ini.

Kedua karya membangkitkan dugaan yang sebenarnya sudah sering dipersoalkan yaitu dugem mencerminkan kelas menengah atas yang biasanya dikenali melalui gaya hidup cosmopolitan. Namun mosaik perilaku pada kedua karya Inge membuat renungan tidak berhenti sampai di situ karena menyodorkan pertanyaan lain, siapakah kelas menengah di Indonesia di mana kelas menengah sulit dipastikan melalui statistik. Perbedaan di antara kaum sangat kaya dengan kaum kaya bisa lebih besar daripada perbedaan di antara kaum kaya dengan kaum tidak kaya di bawahnya. Sementara di antara kaum tidak kaya dengan kelas bawah terdapat gap yang luar biasa besar.

Penghasilan tidak bisa dijadikan ukuran untuk menentukan kelas menengah di Indonesia. Rinci-rinci Hang Out dan Rendez-vous, menunjukkan life style cosmopolitan bisa menjadi ukuran, dan ini berarti gaya hidup cosmopolitan—the fragile goblets—bukan monopoli kaum kaya.
Kelas menengah di Indonesia bukan mereka yang rata-rata berpenghasilan sama, tapi mereka yang rata-rata menyerap informasi global sama dalam kehidupan kota besar. Setengah hari dalam kehidupan mereka di gedung-gedung perkantoran dan mall-mall, mereka—pemilik perusahaan, CEOs, pegawai, receptionist, pembelanja, waitress—menyerap informasi sama dan kesejukan dariair conditioner yang sama.

Pada malam hari mereka itu yang mengisi night life di kantung-kantung kehidupan cosmopolitan. Di sini—cafe, night club, music room, discotheque, bar—mereka menyatu, bercengkerama tanpa batas-batas kelas dan merasakan kesamaan-kesamaan di antara mereka.
At the other side of midnight ketika mereka kembali ke rumah masing-masing, baru penghasilan mereka bisa dibedakan. Mereka yang kaya kembali ke enclave-enclave urban yang nyaman dan aman di pinggiran kota, waitress dan receptionist kembali ke kamar kos 2 x 2 meter dan meratap.

Tag:
Published: November 6, 2008





Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2022 viviyip artroom · webdesign by rio