Under Curents

Category: Curatorial

Oleh Yoyok MDTL

“Tahun 2002 aku menyelenggarakan kegiatan musik yang melibatkan banyak teman pemusik dari aliran yang disebut sebagai electronic underground–sesuatu yang berada di luar jalur mainstream. Saat itu aku masih hidup di Australia,” kata Rudy–Rudy Ardianto lengkapnya–ketika kami mulai ngobrol tentang tema pameran yang akan dipakai dalam pameran tunggalnya di vivi yip art room, Jakarta. Dari perbincangan itu, lahir tema “under current“. Secara harafiah under current adalah arus sungai yang deras dan dalam, berada di bagian arus sungai paling bawah, dengan arus yang kecil volumenya dan arah arusnya berlawanan dengan arus sungai bagian atas.

“Pada saat itu aku mengumpulkan kelompok pemusik indie label dan membuat pertunjukan yang dikemas seperti pesta musik electronic underground, dilengkapi bar-bar kecil yang ikut memeriahkan event tersebut,” ceritanya. Event yang digelar oleh Rudy dan teman-temannya itu hasilnya untuk mensubsidi kegiatan-kegiatan art yang lain misalnya pameran, pemutaran film, dan juga sewa gedung.

Tahun 2006 Rudy kembali ke Indonesia, mengusung keluarganya, yakni Vanessa sang istri berikut dua anak mereka, Mia gadis kecil berumur tujuh tahun serta Febi Dan, bocah laki-laki berusia lima tahun. Di situ kembali Rudy melihat lingkungan sekitar yang berkait dengan air–salah satu kebutuhan pokok manusia–yang nyatanya kurang mendapat perhatian. Tak ada sikap menjaga fungsi air tersebut untuk jangka waktu panjang, sampai ke generasi berikut agar mereka juga bisa memanfaatkan air dengan kondisinya yang sehat. Dengan “heroik”, Rudy mengumpulkan teman-temannya yang sevisi untuk membuat “festival mata air”–sebuah kampanye lingkungan yang melibatkan banyak elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, warga sekitar, kaum pemodal atau penggerak perekonomian, perusahaan-perusahaan, media massa, maupun teman-teman seniman untuk mendukung sekaligus meramaikan festival tersebut.

Banyak hambatan yang ditemui saat mengkampanyekan visi lingkungan, namun dengan kemasan dan pendekatan yang baik Rudy mampu mengumpulkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat tersebut, sampai kemudian terselenggara kampanye lingkungan yang dikemas dalam bentuk budaya dan seni. Acara tersebut berlangsung selama satu minggu dengan agenda kehidupan bersahabat dengan lingkungan alam melalui kegiatan bersih-bersih lingkungan bagi banyak tempat umum yang diikuti oleh berbagai elemen masarakat. Lalu pengenalan seni terhadap anak-anak usia dini dengan mengadakan workshop daur ulang sampah yang bisa dijadikan sebagai benda seni. Tanpa terasa kegiatan itu berjalan setiap tahun. Sejauh ini, selama tiga tahun mampu melewati rintangannya dan mendapat dukungan yang semakin luas dari masarakat.

Selama tiga tahun mengkampanyekan lingkungan, porsi berkarya (melukis) Rudy banyak tersita dengan kegiatan sosial. Namun dalam perkembangannya, di tahun ketiga ini Rudy sudah mulai bisa mengurangi kegiatan yang bersifat “action public” tersebut, yang telah bisa diteruskannya itu oleh rekan-rekannya. Keterlibatannya berkurang, dan ia bisa berkonsentrasi lebih banyak terhadap karya lukisnya yang sempat berkurang banyak porsinya. Ketika kembali ke dunia seni lukis ini, diam-diam ternyata kreativitas yang bersifat under current di festival tersebut muncul lagi, sebagai referensi yang mengilhaminya untuk diangkat menjadi karya lukis.

Rudy yang pernah belajar disain grafis di Australia dan beberapa kali mencetak T-shirt dengan disain yang dibuat sendiri, ilustrasi pada sampul majalah, juga poster-poster yang merupakan hasil dari mendalami disain grafis dapat terlihat pada karya lukisnya. Warna-warna menyala menabrak langsung ke mata, komposisi yang menampakkan perbedaan jelas antara figur dan latar, yang mengingatkan akan karya poster, suatu figur yang merupakan bentuk perlawanan dan provokatif.

Konsep penciptaan karyanya menarik untuk diikuti. Satu karya mempunyai hubungan dengan karya lainnya seperti konsep komik, namun sekaligus dapat bercerita secara tunggal meski terpaut oleh karya sebelumnya. Karya-karya itu bertutur tentang kursi. Mulai dari perebutan kursi kekuasaan, adanya segelintir kursi yang kurang diminati untuk diperebutkan, kursi tersebut ada yang mengisi tapi tidak berfungsi maksimal, dan seterusnya. Dari situ pegerakan under current terjadi di luar mainstream kekuasaan. Dari karya yang sebagian berkonsep seperti komik ini dapat dirasakan nuansa emosi Rudy, yang dapat membantu kita merasakan kenikmatannya saat mengamati karya tersebut.

Jiwa under current Rudy terlihat pada karya-karyanya yang mengkritik dunia kekuasaan yang menghasilkan ketentuan atau undang-undang dalam suatu negara, seperti karya tiga dimensi yang terdiri dari susunan kursi-kursi sebagai gambaran dari kursi parlemen yang membentuk piramida yang di atasnya terdapat satu kursi yang sangat berbeda karena bentuknya yang eksklusif dibanding kursi lain di
bawahnya. Di antara tumpukan kursi itu ada kursi berwarna hijau yang mewakili kursi lingkungan hidup, berada paling belakang dari kursi lainnya. Rudy berkata, susunan paling banyak dan paling bawah melambangkan idiologi, naik satu tingkat merupakan susunan kursi keamanan, di atasnya terdapat susunan kursi mewakili moral, yang paling atas adalah absolute power (the devil’s throne) .

Pada karya lukisnya yang berjudul “The Wheel Chair“, terlihat ada satu kursi yang memperjuangkan lingkungan tapi kursi itu kurang berfungsi karena tidak ada yang tertarik. Yang tertarik pun tak begitu berdaya karena terlalu banyak lawan yang harus dihadapi. “The Wheel Chair“itu sebuah kursi yang ada, tapi tak berfungsi sampai kelihatan bulukan seperti patung Rudy.

Tidak semua karya pada pameran ini menampilkan kursi sebagai perwujudan dari kekuasaan. Pada karya “Art Militant“, Rudy bercerita tentang perjuangan seni dimana seorang seniman merupakan pejuang yang melalui karyanya selalu menyuarakan isi hatinya untuk diperjuangkan. Seni bisa menjadi media yang kuat untuk berbicara. “Art Militant” adalah kosep berkesenian yang militan: seni untuk perjuangan, dalam hal ini lingkungan.

Rudy adalah seorang seniman yang menyadari bahwa narasi yang disampaikan kepada kita melalui karya-karya lukisnya lebih banyak bersifat lingkungan. Dalam banyak karyanya bisa kita temui narasi-narasi itu bermula dari pikiran yang terkonsep dan memenuhi dirinya, dibiarkan mengalir begitu saja dan dikeluarkan secara alami pada kanvas. Bentuk dari intensitas Rudy pada lingkungan terwujud pada karya-karya yang diciptakan, dan hasil dari penjualan pameran ini juga akan disisihkan sebagian untuk lingkungan.

Bentuk figur yang sederhana dari tampilan sesungguhnya merupakan perwujudan dari under current, dimana jiwa yang selalu mempertanyakan akan sesuatu, gelisah terhadap apa yang ditemuinya dalam khasanah pemahaman akan suatu hal, mencoba diekspresikan dalam bentuk yang baru, atau keluar dan melawan dikarenakan kebosanan terhadap wacana yang berkembang.

Berkarya seni tanpa harus dipusingkan oleh aliran ataupun genre tertentu, berkarya dengan kenyamanan hati dan apa adanya, penghargaan terhadap kreativitas diri yang lebih menonjol dibandingkan dengan hasil karya tersebut, bahkan keindahan visualnya bisa dilihat dari keberadaan visual yang tidak porposional. Karya seperti ini lebih dekat dengan sebutan lowbrow yang cenderung tak ambil pusing dengan selera vulgar dan jauh dari cita rasa intelektual.

Karya-karya selebihnya tetap menghadirkan takaran Rudy yang selalu menggali kadar kecerdasannya dalam menggabungkan imajinasinya dengan bentuk visual pada karyanya, mengemas karya secara easy going dan berani, tanpa ragu memberi warna yang mendukung visualnya dalam menyampaikan pesan, seperti pada karya “Lawan”, figur penunggang kuda yang membawa senjata sambil mengepalkan tangan, louder!!! , kepala yang berteriak seperti komik kartun.

Selintas ulasan di atas, semoga dapat membantu kita untuk mengetahui proses penciptaan karya Rudy yang sebelum karya lukis tersebut tercipta, sudah ada sebuah imajinasi yang ramai dan dituangkan kedalam kanvas secara detail. Karya yang hadir dari hasil pengamatan dari pergerakan budaya dan lingkungan under current. ***

Tag:
Published: October 20, 2008





Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2022 viviyip artroom · webdesign by rio