To See Inside

Category: Curatorial

To  See  Inside

Seringkali terjadi, kita mudah terkecoh oleh hiruk pikuk keramaian. Jika tidak hati-hati, waspada dan cermat kita dapat terperangkap pada gelombang mas(s)a dan kehebohan semata yang melelahkan. Lalu ujung-ujungnya terperangkap ke dalam penjara kesepian yang luar biasa di tengah keriuhan.

Dua hal itulah “kelelahan dan kesepian” yang sering didapatkan. Bagaimana agar tidak terperangkap pada realitas semacam itu. Bukan persoalan sederhana saya kira, sebab untuk menghindarinya dibutuhkan pengalaman yang amat kaya. Antara lain bagaimana melatih diri hingga memiliki kecermatan dalam menghadapi kenyataan yang berlapis-lapis, terlebih memahami benturan.

Sedangkan kesombongan dan sejenisnya adalah senjata mutakhir yang secara perlahan dan meyakinkan akan menghancurkan pikiran dan perasaan (hati nurani). Hingga mengalami gangguan, tekanan, bahkan teror. Satu per satu manusia akan kehilangan diri, keluarga, teman, dan segalanya. Bahkan pada saat yang sangat mengerikan Tuhanpun akan menjauh.

Memang tidak ada seorangpun yang berhak melarang orang lain tertawa, berteriak dan berbicara. Siapa saja bebas berucap dan berkata-kata. Kenyataannya yang sering kita temui, sedikit orang saja yang mampu berkata-kata pada dirinya dan membiarkan akalnya reaktif akan hal-hal positif. Dan banyak di antara kita mencurahkan perhatiannya untuk mengurusi yang sesungguhnya tidak penting  di luar dirinya, bahkan sampai menyentuh urusan pribadi orang lain. Tentunya, dalam hal ini tanpa terkecuali diri saya sendiri yang tengah terjebak ke dalam hingar bingar yang melelahkan itu.

Selalu terbuka kesempatan untuk berubah, kapan saja kita suka…Bersahabat dengan diri sendiri, menggali kekuatan tersembunyi yang setiap pribadi memilikinya. Sangat disayangkan hidup yang hanya sekali ini tanpa makna. Penyesalan yang dalam itu akan datang di saat sesal tidak mampu mengubah apapun, ketika yang pasti akan kita jelang dan harapan untuk hidup seribu tahun lagi hanya mimpi.

Satu hal yang pasti itu dalam hidup dan kehidupan manusia adalah kematian (sekalipun kita tidak suka mengatakannya).

Berbicara kepada diri sendiri yang positif (positif self-talk) merupakan alat yang kuat untuk mengubah jalur secara mental, hingga kita menghadapi kesempatan-kesempatan belajar tentang banyak hal dengan kekuatan dan rasa percaya diri yang prima. (Neil Fiore)

Zirwen Hazry

Satu hal yang menarik dari Zirwen bagi saya adalah,

Dia, tak pernah henti di gelanggang seni lukis, sejak dia masih kuliah di Seni Rupa IKIP Padang 23 tahun lalu, walau dunia hiruk pikuk, walau sekian musim kreativitas selalu berganti. Dan sebagai seorang sahabat dekatnya, saya selalu mengikuti sepak terjangnya di belantara kesenian tanah air Indonesia. Bagi saya, dia adalah lambang sebuah keteguhan. Keteguhan atas sebuah pilihan. Pilihan untuk tetap berkiprah di dunia seni lukis, dunia yang selalu menjadi nafas kreativitasnya, dengan semangat yang tiada henti”

Bagi saya, Zirwen adalah sosok seniman pencari jati diri. Lukisannya, secara metaforis, adalah sebuah diary kehidupannya pribadi, sebagai lambang pencarian makna hidup, sebagai petulangan mencari diri terdalam hakikat kemanusiaan. Setidaknya pencarian keZirwenannya sendiri” (Erianto Anas)

Tag:
Published: September 22, 2011





Join our mailing list today and you will be the first to know of any new events and exhibitions happening at the Gallery.
It is free and delivered straight to your inbox.



© 2018 viviyip artroom · webdesign by rio